Berita

Komnas HAM: Densus 88 Jangan Jadi Lembaga Pencabut Nyawa!

KAMIS, 02 JANUARI 2014 | 15:12 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Aksi tembak mati yang dilakukan Detasemen Khusus 88 Antiteror terhadap terduga teroris terbukti tidak efektif dalam memberantas terorisme. Pasalnya, cara-cara tersebut hanya mampu menjawab persoalan sesaat.

"Kekerasan itu tidak akan mampu menuntaskan persoalan terorisme secara komprehensif," tegas anggota Komnas HAM Maneger Nasution (Kamis, 2/1).

Maneger mengingatkan, Indonesia adalah negara hukum, bukan negara para "penjagal" yang ringan tangan mencabut senjata sesuai order. "Densus 88 jangan menjadi lembaga pencabut nyawa," ujar Maneger.


Selama ini sudah lebih 100 orang terduga teroris yang ditembak mati Densus tanpa proses hukum. "Namun faktanya para pelaku teror bukan semakin berkurang tapi malah semakin banyak bermunculan. Seolah densus mewariskan nilai-nilai kekerasan, teror dan dendam terhadap polisi sendiri," ungkapnya.

Karena itu, Indonesia perlu jalan pendekatan baru dan penanganan yang lebih bermartabat dan manusiawi dalam menangani para pelaku teror. Faktor-faktor lahirnya terorisme itu kompleks sekali, tidak sederhana. "Jadi tidak cukup dengan menembak mati tertuga teroris," tegas Maneger.

Maneger juga mendesak pemerintah untuk memastikan tidak ada bantuan asing terhadap Densus. Pemerintah juga diminta mengevaluasi keberadaan Densus 88..

Dalam penggerebekan di Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, pada Selasa malam hingga Rabu dini hari, Densus 88 menembak mati enam terduga teroris. Saat ini keenam jenazah terduga teroris itu masih berada di RS Polri Kramat Jati, Jakarta. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya