Berita

ilustrasi

On The Spot

Minim Rambu, Lampu Penerangan Jalan Mati

Menjajal Jalan Layang Non Tol Casablanca
SELASA, 31 DESEMBER 2013 | 10:33 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kemacetan menghadang ketika menuruni fly over Jalan Dr Sahardjo mengarah ke Casablanca, kemarin petang. Tepat di depan halte Pal Batu arus kendaraan dari arah Tebet—yang melalui fly over—bertemu dengan kendaraan dari Dr Sahardjo. Ruas jalan di sini juga menyempit.

Genangan air bekas guyuran hujan di sisi kiri jalan membuat pengendara roda dua agak ke tengah, berbagi dengan kendaraan roda empat dari dua arus. Laju kendaraan hanya bisa dipacu 0-5 kilometer per jam.

Mendekati TPU Menteng Pulo mulai terlihat penyebab kemacetan. Ruas jalan ini dipadati kendaraan yang hendak mengarah ke Jalan HR Rasuna Said maupun under pass Casablanca.


Mengambil ruas di sebelah kanan, kendaraan bisa lepas dari kemacetan ini. Di hadapan ruas jalan terbelah. Plang arah yang dipasang di beton pemisah ruas jalan ini memberitahukan arah Tanah Abang melalui jalan layang non tol. Pagar beton yang menutup jalan ini sudah disingkirkan.

Sejumlah pengendara sepeda motor pun mengambil jalur ini. Setelah resmi dibuka pada 1 Januari 2014, kabarnya, kendaraan roda dua bakal dilarang lewat jalan layang ini. Larangan ini bukan hal baru. Jalan layang Antasari-Blok M—yang lebih dulu dibuka—juga tak boleh dilintasi motor.

Memasuki jalan layang ini yang mengarah ke Tanah Abang tampak rambu batas kecepatan dipasang di dinding beton sebelah kanan. Rambu itu memberitahukan batas maksimal kecepatan 40 kilometer per jam.

Aspal mulus menghampar. Hari mulai gelap, garis putus-putus warna putih pemisah ruas maupun garis pembatas dinding jalan layang ini terlihat jelas terkena sorot lampu kendaraan. Lampu penerangan menyala terang.

Jalan mulai menanjak. Walaupun sudutnya tak curam, pengendara perlu menambah gas untuk menjaga kecepatan kendaraan tetap konstan 40 kilometer per jam. Melewati tanjakan tepat di atas Jalan HR Rasuna Said, jalan mulai menurun. Juga sedikit meliuk ke kanan.

Hampir semua kendaraan roda empat mengambil ruas kanan. Sementara sepeda motor mengambil ruas kiri. Tak terlihat ada kendaraan yang menyalip untuk mendahului kendaraan lainnya. Semua kendaraan melaju sesuai batas kecepatan yang ditentukan.

Hujan yang semula rintik-rintik terasa sedikit deras ketika melaju di atas jalan layang. Jalur mulai terlihat lurus ketika melewati turunan. Sambungan beton berlubang—yang menjadi alas jalan layang ini—terasa keras ketika terhantam ban.

Menjelang tengah jalan layang, lampu penerangannya padam. Jalan juga kembali meliuk ke kanan. Pengendara yang mengambil ruas kanan hanya mengandalkan sorot lampu untuk bisa melihat garis putih di pinggir. Hanya garis ini yang jadi pemisah jalan dengan dinding pembatas. Tak ada rambu, mata kuning maupun scot light kuning di dinding—yang biasa ditemui di jalan layang tol.

Keberadaan rambu, mata kuning maupun scot light kuning di dinding bisa menjadi patokan pengemudi agar tak mengambil jalan terlalu ke kanan. Berbagai penanda itu diperlukan agar kendaraan tak terbentur dinding yang terbuat dari beton.

Menjelang fly over Jalan Sudirman, jalan kembali meliuk ke kanan. Juga sedikit menanjak. Lalu menurun. Lampu penerangan kembali menyala. Bagian yang dikerjakan PT Istaka Karya paling akhir diselesaikan. Dua hari menjelang uji coba, penyangga penyambungan beton di ruas ini belum dicopot.

Pengendara mulai mengurangi kecepatan ketika jalan menurun. Dari kejauhan tampak kepadatan kendaraan di ujung jalan layang. Di sini, arus kendaraan dari Jalan Sudirman bertemu dengan arus kendaraan dari jalan layang.

Selain jadi tempat pertemuan arus kendaraan, di sini juga terdapat U-turn. Banyak kendaraan yang memutar arah. Kendaraan dari Jalan Sudirman yang hendak memutar arah bersilangan dengan kendaraan dari jalan layang.

Kendaraan yang hendak ke arah Tanah Abang setelah melewati jalan layang perlu mengambil jalur kiri. Hanya ada ruas di jalur yang mengarah ke fly over Karet Bivak-Tanah Abang.

Lagi-lagi pengendara perlu melambatkan laju kendaraannya. Sebab, dua ruas yang ada itu kembali menyempit akibat adanya kendaraan yang parkir di badan jalan. Ruas ini juga menjadi tempat pertemuan kendaraan yang memutar dari arah Tanah Abang.

Dengan kecepatan sesuai batas maksimal, jalan layang sepanjang 3,7 kilometer bisa ditempuh sekitar empat menit.

Bagaimana dengan arah sebaliknya? Laju kendaraan lancar ketika memasuki mulut jalan layang dari arah Tanah Abang menuju Kampung Melayu. Begitu menanjak dan melewati fly over Jalan Sudirman langsung terhenti.

Kendaraan tak bergerak sama sekali begitu sampai di atas. Kemacetan berlangsung sampai ujung jalan layang di depan TPU Menteng Pulo. Lewat dari sini, lalu lintas kembali macet under pass Jalan Ahmad Yani lalu di Pasar Gembrong, Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur.

Sepeda Motor Lewat Bawah

Setelah sempat tertunda penggunaannya, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo akhirnya meresmikan operasional ruas Jalan Layang Non Tol (JLNT), Kampung Melayu-Tanah Abang di atas Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, kemarin. Dengan dibukanya JLNT tersebut diharapkan bisa meminimalisir kemacetan di ibu kota.

“Dengan mengucap Bismillah, dengan ini Jalan Layang Non Tol Kampung Melayu-Tanah Abang diresmikan,” ucap Jokowi sambil memencet tombol sirine.

Pembangunan JLNT itu, kata Jokowi, telah rampung seratus persen dan sudah bisa dimanfaatkan masyarakat pengguna kendaraan roda empat.

Sedangkan, untuk kendaraan roda dua atau sepeda motor tidak diperbolehkan memasuki ruas jalan tersebut. “Sudah rampung, untuk penghijauannya nanti. Kalau untuk sepeda motor bisa melewati jalan di bawahnya,” ujar Jokowi seperti dikutip beritajakarta.com.

Selesai meresmikan JLNT, Jokowi yang mengenakan kemeja putih dan celana hitam, bersama rombongan kemudian langsung melakukan uji coba dengan melewati ruas JLNT sepanjang 3,7 kilometer.

Seperti diketahui, pengerjaan proyek JLNT ini terbagi dalam empat segmen oleh tiga kontraktor. Paket Casablanca dikerjakan kontraktor PT Wijaya Karya dan PT Wijaya Konstruksi. Paket Dr Jalan Satrio dikerjakan PT Adhi Karya. Kemudian paket KH Mas Mansyur dikerjakan PT Istaka Karya dan PT Sumber Sari dengan subkontraktor PT Nindya Karya.

Penyelesaian jalan layang ini sempat tersendat. Proyek ini ditargetkan selesai pada Desember 2012. Pemprov DKI Jakarta pun tak menganggarkan dana lagi untuk proyek ini. Kenyataan hingga 2013 pembangunan belum selesai.

Dinas Pekerjaan Umum DKI kemudian menganggarkan Rp 101,5 miliar agar proyek ini bisa selesai tahun ini. Rinciannya, pembangunan jalan layang paket KH Mas Mansyur sebesar Rp 64 miliar, paket Casablanca Rp 2 miliar, paket Jalan Prof Dr Satrio Rp 21,5 miliar, anggaran pembangunan ramp on off barat Rp 1,5 miliar, dan ramp on off timur Rp 12,5 miliar. Jalan layang ini membentang di atas Jalan Casablanca, Jalan Dr Satrio dan jalan Mas Mansyur serta melintang di atas Jalan Jenderal Sudirman.

Hingga pekan lalu, ruas jalan di bawah Jalan Layang Non Tol Tanah Abang-Kampung Melayu masih terlihat berantakan. Seperti terlihat menjelang fly over Jalan Sudirman. Di sini ada pemecahan arus. Kendaraan dari Tanah Abang yang hendak menuju Jalan Sudirman mengambil jalur kiri. Sedangkan yang hendak naik ke fly over ambil jalur kanan.

Jalur di sebelah kiri terlihat ditutup dengan pagar beton setinggi 1 meter. Ruas jalan yang ditutup tampak berlubang. Aspal mengelupas akibat dilalui kendaraan alat berat proyek. Sebelumnya, di sisi kanan jalan ini dijadikan tempat untuk penyimpan material maupun tempat parkir kendaraan proyek. Tanah bekas galian pondasi jalan layang belum dibersihkan.

Mengambil jalur kanan, aspal jalan yang menuju fly over juga berlubang. Besi-besi pembatas dinding fly over tampak bengkok seperti bekas tertimpa alat berat. Beberapa hilang.

Lampu penerangan jalan tepat di atas fly over padam. Kabarnya, kabel-kabel untuk mengalirkan listrik ke lampu ini dicuri belum lama.

Lewat dari fly over jalan menurun. Ruas jalan ini terpecah menjadi tiga. Semua mengarah ke Jalan Dr Satrio. Ruas jalan yang berada di sela-sela tiang penyangga jalan layang sudah diaspal. Pengendara perlu berhati-hati ketika melintas. Sebab tak ada pembatas jalan dengan tiang jalan layang ini.

Lewat dari sini, hanya sebagian ruas jalan yang telah diaspal. Seterusnya jalan mulus hingga ujung layang di TPU Menteng Pulo. Pada malam hari, kolong jalan layang ini diterangi cahaya lampu warna-warni. ***

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

UPDATE

Pemerintah Siapkan Skenario Haji Jika Konflik Timur Tengah Memanas

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:14

KPK Hormati Putusan Hakim, Penyidikan Dugaan Korupsi Kuota Haji Tetap Berlanjut

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:12

Naik Transjakarta Kini Bisa Bayar Tiket Pakai QRIS Tap BRImo

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:06

Marak OTT Kepala Daerah, Kemendagri Harus Bertindak

Rabu, 11 Maret 2026 | 12:01

RDF Plant Rorotan Diaktifkan Usai Longsor TPST Bantargebang

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:47

Seleksi Anggota Dewan Komisioner OJK Dimulai Hari Ini

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:44

Lantik Pengurus DPW PPP Gorontalo, Mardiono Optimistis Menuju 2029

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:43

Harga Bitcoin Terkoreksi Tipis

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:34

Emas Logam Mulia Naik Rp40 Ribu, Dekati Harga Rp3,1 Juta per Gram

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:29

Viral Mobil Pickup Impor India untuk Koperasi Desa Tiba di Indonesia

Rabu, 11 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya