Berita

ilustrasi

Bisnis

Pejabat Jarang Ada Di Kantor Urus Perizinan Lama & Sulit

Pemilu 2014 Bisa Hambat Investasi, Investor Wait And See
RABU, 18 DESEMBER 2013 | 10:24 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Memasuki tahun politik di 2014, kondisi perekonomian diperkirakan bakal melemah. Pasalnya, investor asing masih menunggu hasil perkembangan pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun sekali itu.

Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Muhamad Idrus mengatakan, Pemilu 2014 turut mempengaruhi minat investor asing masuk ke pasar Indonesia.

“Mereka masih wait and see atas ketidakstabilan politik yang terjadi. Apalagi kondisi ekonomi hari ini membuat mereka lebih waspada,” kata Idrus dalam seminar Prospek Ekonomi Indonesia di Tahun Politik 2014 di Jakarta, kemarin.


Menurut dia, momentum Pemilu 2014 turut mempengaruhi nilai tukar rupiah yang terjun bebas. “Menjelang tahun politik, nilai rupiah terhadap dolar AS jeblok. Saya juga nggak tahu siapa yang menggelontorkan valuta asing itu ke pasar,” ujarnya.

Idrus menilai, jebloknya nilai tukar rupiah bisa dijadikan rekayasa politik dan dimanfaatkan beberapa pihak tidak bertanggung jawab. Sementara pemerintah seakan-akan menutup mata terhadap kondisi ekonomi saat ini dan tidak melakukan apapun untuk membuat rupiah menguat.

“Hanya Bank Indonesia (BI) yang berjuang sendirian,” keluh Idrus.

Sedangkan Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk Ryan Kiryanto optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan meningkat.

Dia juga yakin investasi di pasar Indonesia tidak akan terpengaruh kondisi politik di 2014. “Justru investor asing akan berlomba-lomba masuk ke dalam negeri. Saya rasa tidak akan terpengaruh lah. Soalnya, Indonesia itu ‘seksi’,” ucapnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Difi Ahmad Johansyah menyatakan, pasar akan merespons positif atas terpilihnya pimpinan nasional yang baru yang membuat nilai rupiah menguat.

“Banyak orang berpikir tahun politik akan membuat rupiah semakin melemah. Namun, saya optimis rupiah menguat. Kenapa? Karena setiap menjelang dan sesudah pemilu itu pasar akan membaik seiring terpilihnya pemimpin baru,” jelas Difi.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang UKM Erwin Aksa menilai, ekonomi di 2014 akan mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Pengusaha dan investor tetap berjalan normal jika tidak terkendala pada urusan perizinan dan sejenisnya.

“Iklim politik, apalagi menjelang Pilpres 2014, jelas akan berpengaruh pada investasi karena pengurusan izin semakin sulit dan lama. Pejabat-pejabat negara akan semakin jarang di kantor. Perizinan bisa tertunda lama dan itu akan menjadi penghambat investasi,” ujar Erwin kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, kunci ekonomi di 2014 lebih banyak ada di daerah. Sayangnya, sinergi pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha dan masyarakat masih jauh dari harapan. Soliditas daerah penting jika melihat proyeksi ekonomi yang penuh tantangan dan kegelisahan.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan, perekonomian Indonesia tahun depan tetap didominasi sektor ekstraktif. Seperti pertambangan migas dan masih mengabaikan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan riset teknologi.

“Indonesia masih belum banyak meningkatkan kapasitas SDM dan riset. Ini cukup sedih karena berbeda dengan kondisi seperti di Korea Selatan dan China,” kata Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Maxensius Tri Sambodo dalam acara konferensi pers Economic Outlook Tahun 2014, kemarin.

Menurutnya, kurang berkembangnya inovasi dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia, antara lain karena pembangunan masih berdasarkan sumber daya alam, terutama perdagangan di sektor migas.

Fenomena tersebut sangat ironis karena mirip dengan pola perekonomian zaman kolonial Belanda yang bergantung kepada pengeksploitasian sumber daya alam yang terdapat di Indonesia. “Ini sama dengan zaman kolonial yang ekstraktif,” sentil Tri.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho menjelaskan, pihaknya lebih menekankan komitmen pemerintah dalam pembangunan sarana pendukung kegiatan ekonomi dalam negeri untuk jangka panjang.

“Isu strategis mencakup ekspor dan impor, kemudian peningkatan akses infrastruktur, penguatan kelembagaan ekonomi pedesaan dan harapan besar pada peran Indonesia dalam ASEAN Economy Community (AEC) tahun 2015,” tuturnya. ***

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya