Berita

ilustrasi

Bisnis

Harga Daging Masih Tinggi, Mentan Malah Ngeles Lempar Ke Mendag

Padahal Kran Impor Sudah Dibuka Lebar
SELASA, 17 DESEMBER 2013 | 09:43 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono dan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan dinilai gagal menstabilkan harga daging sapi. Hingga kini harga daging tetap mahal. Presiden diminta mengevaluasi kinerja pembantunya itu.

Mentan Suswono mengaku heran masih tingginya harga daging sapi di wilayah Jakarta yang mencapai Rp 95.000 per kilogram (kg). Padahal, pemerintah sudah membuka kran impor sapi hidup siap potong maupun sapi bakalan tanpa batas.

Untuk diketahui, pemerintah mengeluarkan aturan pembebasan kuota impor sapi melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 46/M-DAG/KEP/8/2013 Tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan serta Produk Hewan
Dalam ketentuan tersebut, mekanisme buka tutup impor sapi bakalan maupun sapi siap potong menggunakan harga referensi (harga patokan), yaitu Rp 76.000 per kg dan tidak akan menerapkan sistem kuota. Artinya, apabila harga daging di pasar sudah di bawah Rp 76.000 per kg maka impor distop, begitu juga sebaliknya.

Dalam ketentuan tersebut, mekanisme buka tutup impor sapi bakalan maupun sapi siap potong menggunakan harga referensi (harga patokan), yaitu Rp 76.000 per kg dan tidak akan menerapkan sistem kuota. Artinya, apabila harga daging di pasar sudah di bawah Rp 76.000 per kg maka impor distop, begitu juga sebaliknya.

“Untuk harga daging masih tinggi, padahal sebenarnya sekarang sudah terbuka impornya,” kata politisi PKS itu di kantornya, kemarin.

Karena itu, Suswono menyerahkan solusi masalah ini kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag). Kemendag dinilai lebih tahu alasan mengapa harga daging masih tetap tinggi. Sebab, saat ini tidak ada hambatan di Kementan untuk mengimpor daging.

“Selama ini memang tidak ada hambatan, waktu itu disepakati dengan kuota. Tetapi saat ini tidak lagi dengan tujuan menurunkan harga. Kita harap bulan ini bisa turun,” katanya.

Selain itu, kata dia, kebutuhan daging nasional pada 2014 diprediksi bakal naik 6 persen dari 549.000 ton menjadi Rp 560.000 ton. Dia berharap, dari total kebutuhan daging nasional tahun depan, 80 persen dipasok dari dalam negeri. Namun ada sejumlah kendala teknis seperti sikap peternak sapi lokal dan pasokan sapi lokal yang terus mengalami penurunan.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), katanya, jumlah populasi sapi di Indonesia menurun 2 juta ekor di 2013 menjadi hanya 14 juta ekor. Karena itu, perlu upaya untuk menambah jumlah populasi sapi seperti mendatangkan sapi betina impor dari luar negeri.

Anggota DPR Ian Siagian mengatakan, masih tingginya harga daging di pasar memperlihatkan Mentan Suswono dan Mendag Gita Wirjawan gagal melaksanakan tugasnya.

“Dulu mereka (Mentan dan Mendag) masih bisa ngeles jika harga daging mahal karena kekurangan pasokan. Sekarang?” katanya.

Menurut Ian, tidak ada alasan lagi bagi Mentan dan Mendag untuk tidak bisa mengendalikan harga daging. Apalagi, mereka juga sudah mengeluarkan aturan impor daging tanpa kuota lagi.

“Ini ada yang bermain supaya harga tetap mahal, supaya bisa impor terus. Karena saat ini patokannya bukan kuota, tapi harga. Jika harga sudah Rp 70 ribu baru impor distop. Jika belum, impor bakal terus lanjut,” katanya.

Dia juga menyayangkan, langkah kedua menteri tersebut yang hanya mencari pembenaran dan melepas tanggung jawab. Selain itu, Mentan dan Mendag tidak berani memberikan sanksi kepada importir daging nakal. “Presiden harus mengevaluasi kinerja menterinya tersebut,” cetusnya. ***

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Rayakan HUT Perusahaan Lewat Santunan Anak Yatim

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:59

Polisi Geledah Rumah terkait Kasus Dugaan Korupsi Kejagung, 74 Kg Emas Diamankan

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:40

Ketahanan Energi Indonesia Masih Pincang Tanpa Ada Cadangan Strategis

Kamis, 09 Juli 2026 | 01:12

Polisi Geledah 12 Titik Kasus Korupsi, Rumah Mewah Jampidsus Tidak Termasuk

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:50

Peradi Profesional Catat Rekor Kerja Sama dengan 112 Perguruan Tinggi

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:45

IPW Dukung Polri Usut Dugaan Korupsi di Lingkungan Kejagung

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:26

Yogyakarta dan Takdir Dirgantara

Kamis, 09 Juli 2026 | 00:01

Kritik terhadap Pemerintah Bagian dalam Kehidupan Demokrasi

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:41

Pertamina Berdayakan Difabel Kampung Rajut Inspirasi Green Warrior Bandung

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:18

Polisi Sita Uang Miliaran Rupiah Usai Geledah Kafe dan Money Changer di Cipete

Rabu, 08 Juli 2026 | 23:14

Selengkapnya