Berita

DraDjad Wibowo

Wawancara

WAWANCARA

Dradjad Wibowo: Kiai NU Di Tapal Kuda Tidak Sedikit Yang Ikut Ke PAN

SELASA, 17 DESEMBER 2013 | 09:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Amanat Nasional menilai salah besar hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang menyebutkan partai yang dikomandoi Hatta Rajasa itu tidak lolos ke Senayan. 

“Itu kan hasil survei SSS yang artinya sangat salah sekali (SSS),’’ kata Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo  kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (14/12).

Sebelumnya hasil  survei SSS  menyebutkan, PKS, Partai Hanura, PAN, dan Partai Nasdem dinilai gagal menembus ambang batas, sehingga nggak lolos ke Senayan.


Bahkan Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) hanya mendapatkan di bawah satu persen.

Dradjad Wibowo selanjutnya mengatakan, berdasarkan hasil survei yang dilakukan di internal PAN dengan mengontrak dua lembaga survei yang ternama dan kredibel untuk melakukan survei per daerah pemilihan (dapil). PAN  punya pembanding yang ilmiah dan obyektif.

“PAN adalah partai modern. Kami menggunakan pendekatan ilmiah obyektif dalam mengukur elek tabilitas partai dan caleg PAN. Makanya kami berani mengatakan, hasil survei SSS itu salah,’’ paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa alasannya survei itu salah?
Pertama, jumlah sampel-nya kecil sekali. Satu dapil hanya 30-an orang. Padahal, satu dapil itu ada yang 10 kabupaten. Potret apa yang bisa diambil dengan responden kecil seperti itu.

Kalau kami melakukan survei, per dapil respondennya bisa ratusan orang. Bahkan ada yang hampir seribu orang.

Kedua, survei SSS melihat persentase suara nasional. Ini tidak bisa dikonversi ke kursi per dapil. Fakta empirisnya, kedua variabel tersebut tidak selalu sejalan.

Sejak 1999, persentase suara PAN selalu kalah dari PKB. Tapi kenyataannya, perolehan kursi PAN lebih banyak.

Survei nasional gagal menangkap faktor konversi ini. Survei per dapil lebih mampu memotretnya.

Ketiga, survei SSS tidak mampu memotret dinamika di dalam dapil. Dengan para caleg terjun setiap hari ke dapil, peta politik di setiap dapil menjadi sangat dinamis.

Silakan SSS menyanggah secara ilmiah argumen itu. Ini tantangan akademis. Saya juga berlatarbelakang akademis dengan pengalaman survei masyarakat sejak 1980-an.

Berdasarkan hitungan internal PAN, bagaimana?
Berdasarkan survey per dapil yang dilakukan kedua lembaga yang kami kontrak, Insyaallah PAN bisa mempertahankan 46 kursi DPR. Namun melihat trennya, PAN berpeluang besar memperoleh double digit, yaitu minimal 56 kursi.

Jika bekerja ekstra keras dan cerdas, siapa tahu malah mendekati target satu kursi per dapil.

PAN nggak lolos karena figur Hatta Rajasa dinilai kurang, ini bagaimana?
Kita tunggu April 2014. Insya Allah, saya yakin mereka salah besar. Nanti SSS jangan pakai alasan macam-macam lho kalau salah. Mereka tidak tahu bahwa Bang Hatta sangat diterima di berbagai kalangan, baik basis tradisional PAN (Muhammadiyah) maupun masyarakat yang lebih luas. Tapi saya memaklumi. Ketika saya masih akademisi murni, saya juga cenderung naif melihat fenomena politik.

Atas dasar apa Hatta diterima masyarakat?
Dari kunjungan ke daerah-daerah, dan interaksi dengan masyarakat yang bukan anggota Muhammadiyah. Contohnya di Jawa Timur. Tidak sedikit kiai NU di daerah tapal kuda yang kemudian ikut PAN.
 
Bukan hanya menjadi anggota PAN, tapi juga caleg dan mengerahkan suara untuk PAN.

SSS menilai basis parpol Islam tidak bagus di 2014, tanggapan Anda?
Dikotomi Islam vs Nasionalis sudah tidak relevan lagi. Tidak sedikit tokoh agama Islam yang bergabung dengan partai-partai yang selama ini dicap nasionalis. Mereka melihat bisa memperjuangkan aspirasi umat Islam melalui semua partai.

Jangan lupa, partai yang membawa label agama Kristen malah tidak bisa ikut pemilu. Pemilihnya lari ke partai nasionalis.

Sejak lama PAN menyadari dikotomi tersebut tidak relevan lagi. Karena itu, kami mengembangkan diri menjadi partai modern. Tapi tetap dengan ciri khas Islam dan Muhammadiyah sebagai basis awal. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya