Berita

twedy noviady/net

Film Soekarno Pembodohan terhadap Generasi Muda Bangsa!

SENIN, 16 DESEMBER 2013 | 22:51 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Di satu sisi, niat membuat film tentang Soekarno perlu diapresiasi dalam rangka menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap sejarah Indonesia, khususnya The founding Fathers, sehingga generasi muda tidak ahistoris. Pembuatan film tersebut merupakan cara popular pendidikan politik.

Namun perlu dicatat, kata Ketua Umum Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Twedy Noviady Ginting, demikian besarnya tanggung jawab tersebut, maka pembuatan film sejarah, khususnya yang berkaitan dengan tokoh-tokoh bangsa, bukanlah pekerjaan mudah. Sebab harus mampu secara utuh membuat personifikasi karakter tokoh yang difilmkan.

Twedy pun menegaskan, film Soekarno yang telah beredar merupakan salah satu contoh film yang tidak mampu menampilkan karakter figur Soekarno seutuhnya. Hal tersebut dapat dilihat dari, pertama, film tersebut kurang mampu mengangkat sisi ideologisnya Soekarno. Mulai dari mencetuskan ideologi Marhaenisme sampai puncaknya pada pidato 1 Juni 1945 Hari Lahir Pancasila.


Kedua, kata Twedy kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 16/12), film tersebut juga tidak mampu mengangkat sisi perjuangan Soekarno seperti momentum perjuangan selama kuliah  dan terjun di dunia pergerakan, melakukan pengorganisasian massa serta mendirikan PNI tahun 1927 pada saat berusia 26 tahun.

Ketiga, lanjut Twedy, film tersebut juga tidak menampilkan proses intelektual Soekarno sehingga menjadi seorang pejuang dan orator ulung. Padahal banyaknya buku yang dibaca Sukarno merupakan fondasi Sukarno menjadi seorang orator yang seyogyanya ditampilkan dalam film tersebut. Sehingga menjadi pendidikan politik bagi anak bangsa.

Keempat, masih kata Twedy, film tersebut juga tidak mengangkat sisi kerakyatan Sukarno. Padahal kedekatan Soekarno dengan rakyat khususnya rakyat kecil.

Kelima, begitu banyaknya karakter Soekarno yang tidak ditampilkan dan digantikan adegan urusan pribadi dan keluarga Soekarno. Film tersebut lebih menonjolkan persoalan pribadi dan keluarga Soekarno dan mengesampingkan sisi perjuangan seorang Soekarno yang sebenarnya berguna bagi generasi muda.

"Dengan demikian kami berpendapat bahwa film tersebut belum merepresentasikan sosok Soekarno dan merupakan pembodohan terhadap anak bangsa khususnya generasi muda," demikian Twedy. [ysa]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya