Berita

Kebijakan Menghapus Pelajaran Bahasa Inggris Dipertanyakan

RABU, 11 DESEMBER 2013 | 10:19 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kebijakan menghilangkan mata pelajaran Bahasa Inggris dan melarang menjadi bahasa pengantar di kelas kecuali sekolah Internasional dipertanyakan. Apa dasar dasar kebijakan tersebut pada saat ini menyongsong pasar bebas, dimana persaingan sangat ditentukan oleh kemampuan bahasa masyarakat.

"Bahasa adalah kebiasaan sehari-hari yang harus diasah terus menerus. Justru seharusnya sekolah menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di kelas, bukan justru melarang penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar," jelas Ketua Satgas Perlindungan Anak, M Ihsan (Rabu, 11/12).

Karena itu, Ihsan kaget ketika membaca pernyataan Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, bahwa kebijakan tersebut akan segera diterapkan di sekolah kecuali sekolah Internasional. Pelajaran Bahasa Inggris hanya menjadi ekstra kurikuler.


Menurut Ihsan, UU Perlindungan Anak dan UU Sisdiknas menegaskan bahwa perlindungan anak dan pendidikan bertujuan untuk mewujudkan anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera. Bagaimana mungkin bisa terwujud jika pemerintah tidak menyiapkan dukungan untuk itu.

"Kebijakan ini akan berpengaruh pada ekonomi masyarakat, yang ekonomi mampu akan menyekolahkan anaknya ke sekolah Internasional atau mendaftar kursus atau bimbel di luar sekolah. Kasihan anak orang tidak mampu yang pintar," ungkapnya.

Menurutnya lagi, kebijakan itu merupakan kebijakan pemerintah yang tidak pro orang miskin dan kualitas pendidikan anak bangsa.

"Saya dapat cerita dari mantan Direktur BI yang punya akses ke luar negeri untuk beasiswa. Ketika seleksi yang lulus adalah (siswa) sekolah Internasional dan sekolah nasional yang menggunakan pengantar bahasa Inggris. Sedangkan sekolah negeri dan swasta biasa selalu gugur karena kemampuan bahasa Inggrinya rendah," beber Ihsan.

Ihsan sendiri mempertanyakan apakah dengan menghapus pelajaran bahasa Inggris akan meningkatkan nasionalisme anak-anak. "Presiden harus punya sikap untuk melindungi anak Indonesia," tandasnya. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya