Berita

Rita Subowo

Wawancara

WAWANCARA

Rita Subowo: Dana Dari Pemerintah Minim, Kenapa Takut Cari Sponsor

MINGGU, 08 DESEMBER 2013 | 09:59 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo mengakui, dana kontingen Indonesia untuk SEA Games 2013 di Myanmar memang minim. Tapi diyakini bisa menjadi juara umum.

“Dana memang ada masalah. Dari dulu kalau kirim kontingen, dana dari pemerintah selalu minim, kenapa takut mencari sponsor,’’ kata Rita Subowo kepada Rakyat Merdeka, kemarin.     

Seperti diketahui, Menpora Roy Suryo mengatakan, tidak mau mencari sponsor sebagai dana talangan untuk SEA Games 2013. Sebab, itu akan merepotkan dan dikhawatirkan ada yang di-KPK-kan.


Rita Subowo selanjutnya mengatakan, meski dana minim,  kesiapan kontingen sudah cukup baik, sehingga tinggal mewujudkannya di lapangan pertandingan.

“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat Indonesia agar kita bisa mempertahankan juara umum yang diraih dua tahun lalu di Jakarta,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya;

Pemerintah takut cari sponsor untuk kontingen SEA Games, ini bagaimana?
Tapi kan dana dari pemerintah sangat-sangat minim, ditambah lagi ada beberapa honor atlet yang harus dibayarkan. Dari dana kontingan yang kecil itu bagi kami sangat berat.

Tapi Insyaallah semua bisa ditangani.

Sebenarnya berapa dana yang dibutuhkan?
Sulit juga menjumlahnya. Setiap cabang olahraga kan berbeda-beda kebutuhannya.

Kita juga harus perhatikan gizi dan suplemen para atlet. Harganya mahal, tapi tetap dianggarkan karena semua atlet harus dalam keadaan baik dan prima.
     
Bagaimana dengan dana latihan?
Latihan juga membutuhkan biaya. Misalnya, cukup nggak kalau di dalam negeri saja latihannya. Kemudian peralatannya seperti apa yang digunakan. Ini membutuhkan biaya besar.

Peralatan dan perlengkapan latihan terlambat diberikan, ini bagaimana?
Saya heran, kok setiap event selalu berulangkali peralatan dan perlengkapan terlambat.

Padahal peralatan itu perlu secepatnya diberikan kepada atlet setiap adanya pertandingan.

Makanya saya mengajak KOI, KONI, pemerintah pusat dan daerah untuk menanggulangi hal ini.

Kenapa pihak swasta nggak diajak berpartisipasi?
Memang ada baiknya ajak sponsor. Kita atur bagaimana mekanisme kerjasamanya. Kita kan tidak ingin kendala itu terjadi dari SEA Games ke SEA Games berikutnya.

Lalu merembet ke lainnya.  Saya khawatir ini bisa jadi penghambat prestasi atlet.

Bisa disebutkan cabang olahraga apa peralatannya mahal?
Misalnya, cabang olahraga menembak. Pelurunya saja sudah jutaan rupiah. Kami ingin lihat sejauhmana pemerintah mau menginvestasikan dana untuk olahraga. Jangan dana itu dijadikan  cost tapi investasi untuk atlet itu sendiri. Sebab, kalau sekali di-invest tentu seterusnya bisa tinggal jalan.

Apa dengan dana saja cukup?

Tidak. Pemerintah daerah bisa persiapkan fasilitas pembinaan yang lengkap untuk atlet daerah

Apa itu bisa dilakukan?
Bisa. Indonesia kan besar. Bagi saja menjadi delapan wilayah yang terkuat.

Sekelilingnya bisa gabung pada fasilitas sport center yang bagus dan dilengkapi pelatih.

Apa sudah dipetakan kekuatan daerah?
KOI sudah petakan kekuatan cabang olahraga unggulan di setiap daerah. Misalnya,  tinju itu banyak potensi yang tumbuh di wilayah Indonesia Timur. Cabang olahraga atletik di Papua, cabang olahraga air seperti dayung  di Kalimantan. Masih banyak yang lainnya.

Sewaktu saya menjabat sebagai Ketua KONI, saya sudah punya blue print dan pemetaan kekuatan olahraga kita kok.

Bagaimana pendampingan terhadap atlet SEA Games?

Mari kita berikan dukungan positif  kepada semua atlet supaya mengurangi beban mereka. Kita berharap para juri bisa bertindak adil. Jangan curang atau berpihak.

Kasihan atlet, sudah berlatih sekian tahun ternyata ada kecurangan.

Saya himbau semua stakeholder untuk saling bahu membahu memberikan dukungan penuh.   ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya