Berita

Benny Mamoto

Wawancara

WAWANCARA

Benny Mamoto: Semangat Berantas Narkoba Tidak Padam Meski Pensiun

SELASA, 03 DESEMBER 2013 | 09:56 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Benny Mamoto tetap berjuang memberantas peredaran narkoba meski pensiun dari Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Semangat memberantas peredaran narkoba tidak akan padam. Saya  terus berjuang untuk mencegah peredaran narkoba,” tegas bekas Deputi Pemberantasan BNN Benny Mamoto kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui, Benny Mamoto resmi pensiun dari BNN, Selasa (25/11). Benny yang selama empat tahun terakhir duduk sebagai Deputi Bidang Pemberantasan BNN, digantikan Brigjen Dedy Fauzi Elhakim yang sebelumnya menjabat Direktur Polisi Udara Baharkam Polri.


Benny Mamoto selanjutnya mengaku, dirinya seharusnya  sudah memasuki pensiun sejak pertengahan tahun 2013. Namun, karena tenaga dan pikirannya masih dibutuhkan oleh Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, dia tetap dipakai sampai November lalu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang Anda perbuat  memerangi narkoba?
Untuk memerangi narkoba kan banyak caranya. Tidak harus di BNN. Tapi bisa melalui mengajar. Saya kan mengajar di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Di mana saja?
Di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) mengajar di Pasca Sarjana Ilmu Kepolisian. Lalu di Universitas Indonesia (UI) menjadi  Sekretaris Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian Pasca Sarjana UI dan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Kemudian banyak undangan ngajar kemana-mana.

Apa efektif mahasiswa diajarkan memerangi narkoba?
Ya. Saya tanamkan motivasi dan masukan. Setiap saya mengajar, selalu saya singgung bagaimana memerangi narkoba melalui contoh kasus yang pernah saya ungkap.

Apa mendapat respons positif dari mahasiswa?
Tentu. Mereka serius mendengarkannya.

Kapan Indonesia bebas dari Narkoba?
Kalau bersih semuanya tidak mungkin. Di negara mana pun tak ada bersih seluruhnya dari narkoba. Tapi kalau penuhi kriteria tertentu pasti bisa. Misalnya, kriteria Indonesia bebas narkoba 2015 adalah upaya menekan laju pertumbuhan penyalahgunaan. Kalau bisa ditekan saja tentu sudah masuk kriteria keberhasilan.

Mengatur waktu Anda mengajar di beberapa perguruan tinggi, bagaimana?
Saya sudah biasa sibuk. Mengatur waktu dengan tidak terikat kedinasan, itu lebih leluasa.

Apa lagi yang Anda lakukan untuk menyelamatkan generasi muda dari narkoba?

Selain mengajar, saya aktif di bidang pencegahan narkoba. Saya tetap ingin menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba. Makanya saya dirikan museum anti narkoba.

Sejak kapan museum itu didirikan?
Juli 2013 diresmikan. Museum yang saya dirikan di Minahasa, Sulawesi Utara itu sudah dikunjungi lima ribu orang.

Apa museum itu efektif untuk mencegah peredaran narkoba?
Saya sih melihatnya efektif. Sebab, orang tua yang membawa anaknya ke museum itu merasa terkesan. Lalu menawarkan kepada yang lainnya untuk datang bersama anaknya  ke museum itu.

Narkoba sudah merambah ke seluruh sendi kehidupan dan profesi. Makanya perlu strategi pencegahan, maka dibangun museum itu untuk edukasi.
 
Apa ada gerakan lain untuk mencegah narkoba?
Belum lama ini ada mahasiswa temui saya. Mereka mau membentuk liga mahasiswa anti narkoba se-Sulawesi Utara. Mereka minta di-training. Setelah itu turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan ceramah dengan bahasa gaul.

Apa kesulitan yang dihadapi dalam memberantas narkoba?

Masalahnya narkoba itu kompleks. Ini bisnis ilegal. Bicaranya angka pasokan dan angka permintaan. Untuk menekan permintaan, maka kita harus merehabilitasi 4 juta orang lebih. Sementara kemampuan kita 18 ribu setahun.

Ini berarti harus sama-sama meningkatkan panti rehab. Kalau pemberantasan terus bekerja, sehingga pasokan bisa ditekan, tapi permintaan tetap tinggi, harga semakin tinggi, maka  tetap akan banyak. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya