Menjelang Pemilu 2014, sejumlah tokoh nasional menemui Sri Sultan Hamengku Buwono X di Yogyakarta.
Pertemuan sejumlah tokoh itu menimbulkan spekulasi. Ada yang menilai, mereka ingin mendapat dukungan dari Sri Sultan. Tapi ada juga yang menilai, para tokoh itu ingin menggandeng Sri Sultan dalam Pilpres 2014.
Menanggapi hal itu, istri Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mengatakan, sejumlah tokoh nasional menemui suaminya itu hanya bertukar pikiran.
“Itu pertemuan biasa. Sebab, Bapak memang suka menerima tokoh nasional,’’ ujar Wakil Ketua DPD itu.
Berikut kutipan selengkapnya:Masa sih kunjungan biasa saja?Saya rasa memang demikian. Beliau kan memang biasa menerima para tokoh, baik lokal maupun nasional kok. Tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan.
Biasanya apa yang dilakukan atau dibicarakan tokoh politik itu?Mereka biasanya melakukan pembicaraan mengenai kebangsaan. Sebab, yang datang itu hampir semua tokoh nasional. Tentu wajar membicarakan soal bangsa dan negara demi kesejahteraan rakyat.
Komunikasi yang dilakukan suaminya itu tentu untuk mencari solusi bersama membangun bangsa dan negara.
Kabarnya ada yang menawarkan suami Anda menjadi capres atau cawapres?Ah, tidak. Paling kalau masalah politik, beliau hanya bicara mengenai konstelasi politik kekinian dan masalah kepemimpinan.
Kalau ada yang mengusung, bagaimana?Tanya ke beliau dong. Jangan tanya ke saya, he-he-he.
Pemimpin seperti apa dibutuhkan sekarang ini?Tentu yang diharapkan masyarakat. Pemimpin yang antara ucapan dan implementasinya jelas ke daerah.
Untuk saat ini kelihatannya pemimpin seperti itu sangat sedikit.
Apa parpol bisa menjaring pemimpin yang bagus?Parpol harus mampu menjaring pemimpin. Saat ini hampir semuanya pimpinan parpol akan mencalonkan diri sebagai capres.
Tentu kita bisa memberikan masukan kepada pemimpin parpol, capres yang seperti apa yang diinginkan rakyat.
Apakah capres yang muncul sekarang ini sudah baik?Capres yang disuguhkan saat ini adalah orang-orang yang dibesarkan oleh media saja.
Kita belum tahu apa yang akan dilakukannya ketika terpilih nanti.
Padahal, pemimpin yang baik itu adalah orang yang bisa membangun Indonesia Wilayah Timur.
Kenapa harus Indonesia Wilayah Timur?Bagi saya, kebijakan yang dikeluarkan sekarang ini terllau jauh untuk bisa diakses masyarakat di timur Indonesia.
Pemimpin yang berhasil itu harus bisa mengayomi rakyatnya dan memenuhi kebutuhan rakyat sesuai yang diinginkan. [Harian Rakyat Merdeka]