Berita

Politik

Salah Arah Pembangunan Juga Sebabkan Tingginya Angka Kematian IBu

SELASA, 01 OKTOBER 2013 | 19:45 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA


Meningkatnya angka kematian ibu melahirkan, dari 228 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 359 tahun lalu menyentuh kepedulian politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Noviantika Nasution.

Menurut caleg DPR RI dari PAN untuk Dapil Jawa Barat III ( Bogor-Cianjur) yang lama malang melintang dalam politik Indonesia itu, tingginya angka kematian ibu secara langsung mencerminkan ketimpangan dalam perekonomian nasional. Salah satunya, menurut Noviantika, menunjukkan adanya kesalahan dalam kebijakan perekonomian nasional.

"Artinya, ada kesalahan dalam arah pembangunan perekonomian nasional, yang membuat rakyat kecil justru tidak kebagian dan tak terurus," kata Noviantika di Jakarta, Selasa (1/10).

"Artinya, ada kesalahan dalam arah pembangunan perekonomian nasional, yang membuat rakyat kecil justru tidak kebagian dan tak terurus," kata Noviantika di Jakarta, Selasa (1/10).

Arah pembangunan yang mestinya menekankan pemerataan sehingga setiap warga negara bisa ikut menikmati peningkatan kehidupan, menurut Noviantika, jelas tidak terjadi. Benar bahwa pada sisi pembangunan ekonomi terdapat peningkatan yang membuat Indonesia kini diakui sebagai salah satu dari 20 negara dengan perekonomian terbesar. Tetapi yang menikmati hanya kalangan menengah ke atas, yang konon jumlahnya 125 juta jiwa itu.

"Sementara kita lupa, ada 250 juta rakyat Indonesia, sehingga ada 125 juta jiwa lainnya yang terpinggirkan tak terurus," katanya.

 Kalangan paling bawah dalam strata ekonomi Indonesia itulah yang kini paling menderita karena terabaikan perhatian pemerintah. Bagi aktivis isu-isu perempuan itu, tak ada sebab lain yang lebih utama membuat tingginya angka kematian ibu tersebut, kecuali kemiskinan.

"Kalau sampai tidak bisa memelihara kehamilan dan melahirkan dengan perawatan yang baik itu, apa lagi kalau bukan karena kemiskinan?" tambah Novi, yang merupakan woman representative FIBA (Federasi Bola basket Asia) itu.
 
Karena itulah, kata Noviantika, yang harus dilakukan pemerintah adalah secepatnya mengubah arah perekonomian yang tidak meninggalkan pemerataan. Salah satunya yang utama, adalah dengan menggerakkan sektor riil yang banyak melibatkan sumber daya manusia kalangan menengah bawah. Selain itu, menguatkan perekonomian nasional dengan mengedepankan produksi sendiri dan bukan impor, juga menjadi kebijakan yang harus segera diimplementasikan.

"Jangan semua dari impor, yang selain harganya mahal tak terjangkau rakyat banyak, juga tidak menguatkan produksi nasional yang ditopang rakyat banyak," kata dia. [dem]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya