Berita

lalu mara/net

Tenun Lombok Tinggal Menunggu Klaim Malaysia...

KAMIS, 26 SEPTEMBER 2013 | 12:09 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Saat ini, perhatian pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) terhadap tenun Lombok sangat minim sekali. Kini, tidak ada satu pimpinan NTB yang mewajibkan pegawai negeri sipil (PNS) untuk memakai tenun ikat atau songket. Tentu saja, dengan kondisi seperti ini, tenun ikat khas Lombok, akan menjadi kenangan.

"Zaman Pak Gatot Gubernur, beliau sangat aktif mempromosikan tenun ikat atau songket ke luar negeri. Beliau selalu melibatkan ahli dalam bidan tenun dalam setiap promosi pariwisata," kata satu-satunya pengusaha tenun yang masih tersisa, Darnay Montana Ang, saat ditemui tokoh nasional asal Lombok, Lalu Mara Satria Wangsa, beberapa waktu lalu.

Dulu, lanjut Darnay, di era Gubernur Gatot Suherman, ada SK Gubernur yang mewajibkan PNS untuk menggunakan baju berbahan tenun ikat atau songket di hari-hari tertentu. Dengan SK itu, maka produksi tenun di Lombok tumbuh dan berkembang.


"Kini, banyak perusahaan tenun tutup. Kalau kami tutup, tutup cerita tenun," katanya, sambil menjelaskan bahwa ia meneruskan perusahaan tenun yang diwariskan orangtuanya. Dulu, ia sampai mempunyai pekerja hingga 400 orang. Namun kini, pekerja yang tersisa tingga 40 orang.

Kepada Lalu Mara, Darnay juga mengatakan bahwa pengembangan tenun Lombok juga terkendala sumber daya manusia, karena memang pengusaha tak memiliki anggaran untuk pelatihan. Ia pun menegaskan bahwa pengusaha tenun butuh perhatian pemerintah untuk pelatihan, promosi dan pemasaran. Minimal, PNS mengunakan lagi tenun, dan bukan batik. Sebab batik bukan berasal dari Lombok.

"Sepertinya, tenun Lombok menunggu klaim Malaysia, baru ramai. Saya sudah diajak oleh pengusaha Malaysia untuk memindahkan usaha tenun ini ke Malaysia, dan dijadikan tenun Malaysia. Semua ditanggung oleh mereka. Saya tolak karena ini warisan orang tua kami," ungkap Darnay.

Dalam kesempatan ini, Lalu Mara, yang merupakan Wasekjen Golkar dan orang kepercayaan Aburizal Bakrie, merasa kagum dengan idealisme Darnay Montana Ang dalam mempertahankan tenun ikat Lombok ini. Darnay tidak goyah karena iming-iming materi. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya