Berita

Prof Franz Magnis Suseno

Wawancara

WAWANCARA

Prof Franz Magnis Suseno: Sulit Muncul Pemimpin Berkualitas Kalau Biaya Politik Sangat Tinggi

JUMAT, 06 SEPTEMBER 2013 | 09:16 WIB

Indonesia masih memiliki harapan menjadi bangsa maju jika para pemimpin mau bersama-sama membangun dengan kejujuran.

“Tidak ada yang mustahil di Indonesia, negeri yang memiliki segalanya. Makanya banyak yang iri dengan Indonesia,” kata pakar etika politik Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Diyarkara, Prof Franz Magnis Suseno, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Rabu (4/9).

Romo Magnis, panggilan akrab Franz Magnis Suseno menyebutkan, pemimpin Indonesia belum melihat keberagaman sebagai kekuatan untuk maju.


“Keberagaman itu harus dijaga dan diperkuat. Jangan sampai ada upaya memecah,” ujar pria kelahiran Jerman yang sudah 52 tahun hidup di Indonesia itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana meyakinkan kalau keberagamanan itu sebuah kekuatan?
Ini yang harus kita dengungkan terus. Bhineka Tunggal Ika kan artinya berbeda-beda tapi menyatu.

Kita harus bersatu untuk mendapatkan kekuatan itu. Indonesia secara hakiki memang dilahirkan dan memiliki keberagaman yakni terdiri dari kepulauan, banyak suku, budaya, agama dan lainnya. Kalau Indonesia mau memiliki masa depan yang cerah maka keberagaman ini harus dipelihara dengan baik dan tidak menyerah dikala dihadapkan dengan kesulitan dan masalah, apalagi sampai adanya perpecahan.

Pemimpin seperti apa yang mampu menjaga itu semua?

Tentu Indonesia harus dipimpin oleh orang memiliki kemampuan, kualitas, moral dan emosional yang baik untuk menjaga keberagaman yang kita miliki ini. Memang dalam kehidupan politik memungkinkan orang seperti itu muncul kok. Cuma masalahnya masyarakat belum bisa melihatnya dan memilihnya sebagai pemimpin.

Loh, kenapa?
Saya kok merasa jangan-jangan sistem politik tidak cukup terbuka, sehingga orang berkualitas itu tidak muncul. Sebab, ada sumbatan atau hambatan.

Sebenarnya Indonesia memiliki banyak orang berkualitas. Tapi keran kemunculannya tersumbat partai politik. Makanya partai politik harus transparan, sehingga orang berkualitas itu bisa muncul.

Memang pemimpin yang dihasilkan sebelumnya bagaimana?

Sampai sekarang pemimpin yang ada cukup bermutu walau masih ada kritik yang disampaikan kepadanya. Dalam bidang politik memang perlu peningkatan kemampuan partai-partai untuk aktif dan kreatif mememunculkan calon pemimpin yang berkualitas.

Apa masalah utamanya, sehingga tersendat munculnya pemimpin berkualitas?

Saya melihatnya, bagaimana bisa muncul pemimpin berkualitas jika membutuhkan biaya yang sangat tinggi.

Maka kita peru arahkan agar semua pemimpin bermutu baik, apa itu di legistalif, eksekutif, maupun yudikatif. Jangan harus mengandalkan uang terus untuk menjadi pemimpin.

Bagaimana agar biaya pilitik itu tidak tinggi?
Itu tergantung partai politik. Tentunya rakyat juga harus mendukung. Sebab, dengan mahalnya biaya masuk politik itu menjadi kendala. Bayangkan mau jadi caleg saja harus siapkan uang miliaran rupiah.

Makanya bayak caleg atau calon kepala daerah, terlepas dia berkualitas atau tidak, tetap saja mengandalkan kemampuan finansial untuk menang.

Tapi bagaimana kalau dia tidak punya duit, tentu yang berkualitas itu sulit muncul.

Dampaknya apa?
Tentu demokrasi kita jadi mandek. Mestinya orang yang mau berpartisipasi dalam demokrasi maupun politik boleh yang tidak terlalu kaya.

Lagipula biaya politik cukup tinggi itu secara tidak langsung memicu orang untuk melakukan hal yang negatif seperti korupsi dan sebagainya. Alasan sistemik itu harus diperbaiki.

Caranya bagaimana?
Ya. Sebagai contoh pemerintah bisa membiayai kegiatan partai politik, sehingga partai politik tidak ‘mengamen’ ke pengusaha. Ahli politik tentu mengetahui bagaimana cara mengaturnya itu. Menurut saya politik itu kan bukan untuk menjadi kaya.

Apa bisa memajukan bangsa tanpa uang?
Bisa. Seseorang bisa memajukan bangsa dan negaranya tanpa uang.
Maka partai politik harus mencari pemimpin yang berkualitas.

Bagaimana dengan pemimpin hasil Pileg dan Pilpres 2014?
Saya tidak bisa meramalkan itu, ha...ha...ha...

Apakah capres yang sudah bermunculan saat ini mampu mensejahterakan rakyat?

Saya tidak mau masuk ke nama-nama yang ada. Tapi kita harapkan pemimpin ke depan itu mampu mensejahterakan rakyatnya dan mengerti apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya. Sehingga, negara ini bisa maju.

Apa kriteria pemimpin seperti itu?
Bagi saya, yang paling penting dia punya integritas. Dia tidak bisa dibeli. Lalu memiliki wawasan Pancasila yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.

Memiliki intelektual yang tinggi. Memiliki kematangan dalam kepribadian. Tidak berjanji dengan janji palsu, dan tidak mau cari untung sendiri.

Yang penting lainnya dia memiliki komitmen yang mendalam terhadap demokrasi dan hak asasi manusia.

Anda dibesarkan di negara maju, tapi sudah lama menjadi WNI, apa masih ada harapan Indonesia bangkit?
Saya sudah menjalani kehidupan di Indonesia selama 52 tahun. Saya lihat pasang surut bangsa dan negara ini.

Itu tentunya membuat saya tetap optimistis. Apa lagi sampai sekarang Indonesia mampu mengatasi masalah yang menerpanya.

Kita sebagai warga negara tidak boleh putus asa.

Kemampuan kolektif Indonesia cukup tinggi maka ke depan saya memiliki keyakinan bangsa dan negara kita akan lebih baik. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya