Berita

lukisan Yayak Kencrit

Rizal Ramli: Pemimpin Jangan Punya Kepentingan Pribadi

Feodalisme dan KKN Hambat Kemajuan Indonesia
RABU, 04 SEPTEMBER 2013 | 21:28 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Budaya feodal serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) telah menjadi hambatan utama bagi bangsa Indonesia untuk 'terbang'.  Padahal, berbekal semangat merah putih dan kuaitas sumber daya manusia yang bagus, bangsa ini bisa 'terbang' tinggi mengalahkan bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara.

"Dalam suasana memperingati kemerdekaan Indonesia ke-63 Agustus silam, saya teringat lukisan Yayak Kencrit. Dia melukis ada anak muda Indonesia yang sebetulnya bisa terbang tinggi dengan berpegang pada bendera merah putih yang melambangkan semangat dan nilai-nilai kebangsaan. Anak muda ini mendekap buku sebagai simbol ilmu pengetahuan di dadanya. Namun pada bagian kakinya ada dua batu besar bertuliskan KKN dan feodalisme. Kalau saja kita bisa melepaskan diri dari belenggu KKN dan feodalisme, tentu Indonesia akan mampu mengalahkan negara-negara ASEAN dan menjadi bangsa yang disegani di Asia," papar Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) Rizal Ramli, ketika memberi arahan pada peserta pengkaderan Laskar Anti Korupsi (Laki) Pejuang 45,  di Jakarta, Rabu sore (4/9).

Yayak Kencrit yang dimaksudkan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini adalah pelukis 'mbeling' yang lari ke Jerman saat Orde Baru. Yayak sendiri alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang bersama-sama Rizal Ramli dan kawan-kawannya menentang dipilihnya lagi Soeharto sebagai presiden pada 1978.


Rizal Ramli menceritakan bagaimana suatu ketika dia menjadi sangat prihatin ketika melihat dengan mata kepala sendiri seorang walikota yang untuk makan siang saja dikawal tujuh ajudan. Yang lebih membuatnya miris, sang walikota yang sangat feodal itu harus dibantu stafnya saat memasukkan sepatu ke kakinya usai makan.

Sedangkan untuk praktik KKN, Capres paling ideal versi The President Centre ini menunjuk banyak sekali contoh. Krisis pangan yang ditandai dengan sangat tingginya harga produk pangan di Indonesia adalah buah praktik KKN antara penguasa dan pengusaha. Karena diterapkannya sistem kuota impor, maka tumbuh suburlah praktik KKN yang selanjutnya melahirkan mafia dan kelompok-kelompok kartel di komoditas pangan. Akibatnya, rakyat Indonesia harus membayar gula, kedelai, daging sapi dan lainnya 100% lebih mahal dibandingkan harga di luar negeri.

Rizal Ramli bukannya tidak punya solusi atas mahalnya harga komoditas pangan. Beberapa bulan silam dia langsung menemui Dirut Perum Bulog dan Menteri Perdagangan. Kepada mereka dia menyarankan agar pemerintah segera menghapus sistem kuota impor komoditas pangan dan menggantinya dengan sistem tarif. Namun dengan berbagai dalih hingga kini pemerintah masih saja mengabaikan  usulan tersebut.

"Ribut-ribut tokoh bernama Sengman pada kasus impor daging sapi adalah bukti nyata adanya praktik KKN antara penguasa dan pengusaha. Praktik mafia dan kartel juga terjadi pada migas kita. Ongkos produksi BBM kita jadi sangat mahal karena para mafia Migas mengeruk keuntungan sangat besar, mencapai US$1 miliar dolar atau lebih dari Rp 10 triliun setiap tahun. Rakyat dan negara jelas sangat dirugikan," papar Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) era Gus Dur ini.

Menurut dia, kalau mau maju dan berdiri sejajar dengan negara-negara Asia lainnya, bangsa Indonesia harus berani menghilangkan budaya feodal dan praktik KKN. Caranya sangat mudah, siapa pun yang jadi pemimpin jangan punya konflik kepentingan atau kelompok. Pemimpin harus bekerja dengan hatinya untuk bangsa dan seluruh rakyat Indonesia.

"Sebab, kalau pemimpin memiliki interest tertentu, pasti dia akan membuat berbagai macam rekayasa yang menguntungkan pribadi atau kelompoknya. Jika sudah begini, pasti yang dirugikan adalah negara dan rakyat Indonesia," tukasnya. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Penumpang Melonjak di Libur Sekolah, Whoosh Hadirkan Promo Wisata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:57

Razman Dieksekusi

Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:29

Purbaya Bantah Restitusi Pajak Ditahan, Tuding Ada Permainan Oknum DJP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:51

Dari Kandang ke Kanopi Hutan: Tiga Orangutan Hasil Rehabilitasi Kembali ke Alam Liar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:45

Perjalanan Tengkar KH Miftachul Akhyar

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:52

Punya Integritas, Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:34

Terus Meningkat, Mayoritas Publik Tak Puas Kinerja Wapres Gibran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:22

Dikuasai Gaya Hidup, Pasar Indonesia Diincar Asing

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:41

Polisi Tangkap Perantara Jual Beli Sabu 1 Kg di Pasar Baru

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:29

JK Resmikan Pembangunan Masjid Hajjah Yuliana Bekas Kantor Polisi di Melbourne

Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:00

Selengkapnya