Berita

Hary Tanoesoedibjo

Wawancara

WAWANCARA

Hary Tanoesoedibjo: Nggak Usah Pusing Hasil Survei, Kami Fokus Sosialisasi WIN-HT

JUMAT, 30 AGUSTUS 2013 | 08:51 WIB

Pasangan Wiranto-Hary Tanoesoedibjo (WIN-HT) dalam berbagai survei, elektabilitasnya belum naik juga. Padahal, deklarasi capres-cawapres dari Partai Hanura itu sudah lama dilakukan.

“Tidak usah pusing dengan hasil survei. Kami fokus saja dengan sosialisasi pencapresan WIN- HT,” ujar Ketua Dewan Pakar Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Rabu (28/8).

Dari berbagai survei, elektabillitas Wiranto masih rendah. Misalnya, survei yang dilakukan Forum Akademisi Informasi Teknologi pada 1-20 Agustus 2013, elektabilitas Wiranto hanya 3 persen, jauh di bawah kandidat capres lainnya.


Sementara Hary Tanoe belum juga muncul sebagai cawapres potensial di berbagai lembaga survei.

Hary Tanoe mengaku tak gentar menghadapi kandidat capres-cawapres lainnya. Menurutnya, nanti semua dibuktikan dalam Pemilu 2014.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda tidak gentar?
Saya lihat masyarakat saat ini menginginkan pemimpin yang bisa memberikan solusi, bukan lagi yang sekadar karismatik dan popular.

Memang Anda punya solusi?
Sebelum memutuskan maju bersama Pak Wiranto, saya sudah memikirkan masak-masak. Saya menghitung kekurangan dan kelebihan saya dan Pak Wiranto.

Saya sudah cukup lama menekuni dunia ekonomi dan bisnis, sehingga saya sudah punya solusi. Tapi karena saya sejak awal merupakan entrepreneur, saya tidak memiliki banyak pengalaman di bidang sosial, politik, dan keamanan. Padahal itu merupakan bidang penting untuk membangun sebuah negara.

Nah, saya lihat Pak Wiranto sudah memiki kompetensi yang mumpuni di bidang-bidang itu. Dalam soal keamanan tidak perlu ditanya, beliau sudah banyak pengalaman di militer.

Sementara soal sosial dan politik juga bagus. Beliau kan sudah berpengalaman di pemerintahan dan partai politik.

Antusiasme masyarakat terhadap WIN-HT belum tinggi, ini bagaimana?
Tidak ada masalah kok, saya kan tidak ambisius. Saya jadi cawapres karena diminta. Saya melihat sinergi saya dengan Pak Wiranto ini dapat menyelesaikan semua masalah Indonesia. Tapi kalau masyarakat melihatnya lain, saya juga tak akan masalah.

Banyak pihak menganggap deklarasi WIN-HT terlalu dini, benarkah?
Justru dengan mendeklarasikan diri sejak awal, kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat kalau ada duet capres-cawapres seperti kami.

Duet senior-junior, dengan perbedaan agama, kultur, dan bidang yang digeluti, tapi bisa memanfaatkannya untuk saling mengisi kekurangan masing-masing.

Soal hasilnya, kami serahkan kembali kepada masyarakat. Saya sih nothing to lose saja. Toh saya tidak mencari pekerjaan di politik. Saya berpolitik justru pengorbanan. MNC itu sedang tumbuh. Niat saya di politik itu hanya untuk mengabdi.

Ketua DPP Hanura Fuad Bawazier menyatakan kalau Wiranto capres gurem, tanggapan Anda?
Biarkan saja, semua orang kan bebas berpendapat. Biar nanti hasil yang membuktikan benar atau tidak.

Anda tidak khawatir pernyataan tersebut memicu perpecahan di Hanura?
Tidak. Buktinya sampai saat ini semua baik-baik saja, semua berjalan lancar.

Oh ya, kenapa rupiah kok  makin melemah?
Anjloknya rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat, menurut saya terjadi karena pemerintah lebih cenderung reaktif. Tidak melakukan antisipatif. Tingkat konsumtif di Indonesia tinggi. Ini antara lain pemicu inflasi, membuat banyak masyarakat menjadi pengangguran.

Solusinya?
Untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia dari keadaan seperti  ini, Bank Indonesia (BI) harus mengambil langkah seperti menaikkan suku bunga. Kredit bank lebih banyak disalurkan ke sektor produktif.

Selama ini banyak kredit bank larinya ke sektor konsumtif, ini yang menyebabkan inflasi. Tapi tidak menghasilkan lapangan pekerjaan. Masalahnya di Indonesia tingkat konsumsinya tinggi.  [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

BPOM Terbitkan Aturan Baru untuk Penjualan Obat di Minimarket

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:01

Jaksa KPK Endus Ada Makelar Kasus dalam Kasus Bea Cukai

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:59

Kapolri Dianugerahi Tanda Kehormatan Adhi Bhakti Senapati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:50

Komisi XIII DPR Desak LPSK Lindungi Korban Kasus Ponpes Pati

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:39

Pengembangan Koperasi di Luar Kopdes Tetap jadi Prioritas

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:20

AS Galang Dukungan PBB untuk Tekan Iran di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:19

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Komdigi Lakukan Blunder Kuadrat soal Video Amien Rais

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:06

Menteri PU: Pejabat Eselon I Diisi Putra dan Putri Terbaik

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:58

RI Jangan Lengah Meski Konflik Timur Tengah Mereda

Rabu, 06 Mei 2026 | 16:45

Selengkapnya