Berita

Publik Masih Curiga Terjadi Politisasi dalam Pemberantasan Teroris

SABTU, 17 AGUSTUS 2013 | 00:29 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kerja-kerja pemberantasan terorisme yang dilakuka Densus 88 Anti Teror Polri menimbulkan tanda tanya. Tidak adanya keterangan yang disampaikan terbuka mengenai kasus-kasus penangkapan atau penembakan yang dilakukan terhadap seseorang atau sekelompok orang dalam rangka kegiatan pemberantasan terorisme, menimbulkan kecurigaan bahwa hal tersebut bagian dari politisasi belaka.

Menyikapi hal itu, Pengamat Politik Datuak Ali Tjumano menyarankan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme membentuk divisi khusus yang bersifat terbuka, yang bertugas menyampaikan penjelasan kepada masyarakat. Dengan begitu, prasangka buruk ada politisasi di balik kerja-kerja yang dilakukan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri bisa terjawab.

"Dalam hubungan ini prosedur, ketentuan dan syarat-syarat pengecekan oleh keluarga korban dapat dibuat oleh BNPT. Setiap tindakan kekerasan yang dapat mengakibatkan rasa takut kepada masyarakat adalah aksi teror," kata dia, Jumat (16/8).


Dia mencontohkan, penembakan terhadap seorang anggota Polisi di daerah Lebak Bulus hingga tewas dapat dianggap sebagai aksi teror. Tapi, si pelaku masih harus didalami apakah bermotif politis, atau sekedar aksi premanisme yang mungkin mulai muncul di kawasan Lebak Bulus.

Dia juga menyoroti kasus pemboman terhadap Vihara Ekayana di Kebon Jeruk belum lama ini. Lelaki asal Padang ini memperkirakan pengusutan  kasusnya menemui kesulitan karena belum ditemukannya identitas para pelaku.

Lebih lanjut Datuak Ali Tjumano menyatakan Yogyakarta menjadi daerah yang paling rawan premanisme. Di sana, aksi-aksi penembakan dengan senapan angin merupakan ilustrasi meningkatnya aksi-aksi premanisme.

Menurutnya, perlu dicegah dampak negatif dari pengadilan kasus Cebongan berupa munculnya sikap-sikap berani kelompok-kelompok preman karena mereka beranggapan hukuman terhadap para anggota Kopassus yang sedang diadili, akan menyebabkan Polda berhati-hati dalam bersikap keras dan tegas terhadap preman.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya