Berita

Politik

Capres Populer Belum Tentu Kompeten Jadi Presiden

JUMAT, 16 AGUSTUS 2013 | 17:46 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Masalah pemilihan presiden tahun 2014 akan ditentukan dua faktor, yakni hasil pemilu legislatif bulan April 2014 dan figur capres yang diusung. Dari Pileg akan menghasilkan partai besar mana yang menguasai paling tidak 20% jumlah kursi atau lebih sebagai syarat untuk dapat mencalonkan capres. Sementara capres yang populer tanpa melihat track recordnya apakah merupakan calon yang kompeten menjadi presiden atau tidak.

Demikian dikemukakan pengamat masalah strategis Indonesia, Toni Sudibyo, dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Jumat (16/8). Dia mengatakan akibat merosotnya image parpol di mata rakyat, hampir pasti tidak ada parpol yang akan bisa menguasai kursi DPR paling tidak 20% sekalipun. Cukup kuat perkiraan semua partai hanya akan mampu memperoleh kursi dibawah 20% dan untuk dapat mengajukan capres harus melakukan koalisi dengan parpol lain.

"Dalam kerangka menyusun koalisi inipun akan ternyata bahwa beberapa Parpol akan mempunyai peluang dan kemampuan yang mungkin  seimbang.  Dalam situasi semacam itulah unsur popularitas bakal capres merupakan faktor yang ikut menentukan," katanya.


Dari aspek pencapaian kursi DPR, katanya menganalisa, nampaknya PDI akan mampu mendekati 20% syarat Presidential Threshold. Namun masalahnya, baik di kalangan PDI P maupun dalam masyarakat, ada ketidakyakinan Megawati akan tampil sebagai capres yang popularitasnya tinggi.

"Berbagai kelompok masyarakat yang menghendaki perubahan nampaknya jatuh pilihan mereka kepada Jokowi, meskipun sebenarnya track record kesuksesan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta belum ada. Namun nampaknya mereka tidak peduli dan mereka inilah yang mengharapkan  akhirnya Megawati dengan legowo akan menyerahkan posisi Capres kepada Jokowi," tambahnya.

Sementara itu, pengamat politik Arman Ndupa menilai gerakan politik kelompok-kelompok kecil yang mendukung Jokowi sebagai capres terasa sebagai aksi-aksi yang tidak logis. Jokowi yang selesai saja belum dalam menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, nampaknya melihat prospek hasil pileg yang  hampir pasti tidak akan ada lagi partai yang unggul, unsur capres yang populer akan menentukan.

"Inilah yang nampaknya terjadi didalam kerhidupan politik nasional, rakyat kembali lagi mernginginkan perubahan dan mereka melihat Jokowi adalah orangnya," kata dia.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

Komisi I DPR: Kisruh Rating IGRS di Steam Picu Kegaduhan

Rabu, 08 April 2026 | 19:50

JK Jangan jadi Martir Pemecah Belah Bangsa

Rabu, 08 April 2026 | 19:41

Narasi Pesimis di Tengah Gejolak Global Ganggu Stabilitas Nasional

Rabu, 08 April 2026 | 19:19

Ulama Dukung Wacana BNN Larang Vape

Rabu, 08 April 2026 | 19:18

KAMMI: Kerusakan Lingkungan Tidak Bisa Selesai di Ruang Diskusi

Rabu, 08 April 2026 | 19:05

WFH Momentum Perkuat Layanan Digital

Rabu, 08 April 2026 | 19:02

Motor Listrik Operasional SPPG Sudah Direncanakan Sejak 2025

Rabu, 08 April 2026 | 19:00

Harus Melayani, Kader PKB Jangan jadi Tamu 5 Tahunan

Rabu, 08 April 2026 | 18:51

JK Minta Jokowi Tunjukkan Ijazah Asli Buat Akhiri Polemik

Rabu, 08 April 2026 | 18:44

7 Menu Warteg Paling Dicari Orang Indonesia

Rabu, 08 April 2026 | 18:42

Selengkapnya