Berita

rieke diah pitaloka/net

Politik

PDIP: Pidato SBY Ibarat Fiksi Ilmiah!

JUMAT, 16 AGUSTUS 2013 | 15:03 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menilai pidato SBY pada rapat Paripurna Gabungan DPR dan DPD RI dalam rangka penyampaian RUU APBN 2014 dan Nota Keuangannya ibarat fiksi ilmiah. Seperti pidato SBY kebanyakan, bumbu-bumbu istilah dan teori berbahasa Inggris diselipkan di sana sini, terkesan ilmiah karena disertai dengan angka-angka yang seolah memperlihatkan akurasi keberhasilan.

"Ambil contoh pengakuan SBY bahwa kesejahteraan rakyat pada masa pemerintahannya diklaim terus meningkat. Argumen yang digunakan adalah angka PDB per kapita (2004= US$ 1177, 2009=US$2290, 2012= US$ 3092). Pada tahun 2014 SBY menyatakan per kapita ± US$5000. PDB itu mengukur produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara. Siapa yang menikmati? Bukan seluruh rakyat Indonesia. Tapi mereka yang dapat akses dalam bidang ekonomi," ujar politisi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka Rieke dalam pesan elektronik yang diterima redaksi, Jumat (16/8).

Rieke mencontohkan apa yang terjadi di Papua. Pertumbuhan ekonominya tertinggi di Indonesia tapi angka kemiskinan di sana juga yang tertinggi.


Dia mengajak berpikir positif terkait apa yang disampaikan SBY dalam pidatonya di paripurna tadi pagi. Tidak terhipnotis dengan bumbu-bumbu istilah dan teori berbahasa Inggris yang terkesan ilmiah.

"Mari kita berpikir positif. PDB 5000 per kapita, itu berarti 50 juta per tahun atau 4,2 juta per bulan per KK. Artinya, per orang 1 juta per bulan," katanya

Klaim meningkatnya kesejahteraan yang disampaikan SBY, lanjut Anggota Komisi X DPR RI itu, juga bermasalah bila disandingkan dengan data statistik dari yang dirilis pemerintah sendiri. Data BPS menyatakan kemampuan masyarakat yang mampu belanja di atas 1 juta per bulan hanya 16%. Sedangkan 500-1juta ada 30%, dan di bawah 500 ribu ada 55%.

"Pertanyaannya kesejahteraan macam apa yang dimaksud apabila sebanyak 85% rakyat justru daya belinya di bawah 1 juta perbulan. Kemampuan daya beli memperlihatkan penghasilan per bulan. Data yang dilansir BPS bahkan belum dihitung berdasarkan kondisi pasca kenaikan BBM," demikian Rieke.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kemlu Telusuri Keterlibatan WNI dalam Kasus Online Scam di Malaysia

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:18

Pasar Kripto Lesu, Coinbase Rugi Rp6,8 Triliun

Jumat, 08 Mei 2026 | 10:09

Syahganda Nainggolan: Ulama Punya Peran Strategis Bangun Gerakan Koperasi Pesantren

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:49

DPR Dorong Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan Driver Ojol Lewat Revisi UU LLAJ

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:31

IHSG-Rupiah Tertekan Jelang Akhir Pekan

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:22

Selamat Jalan, James F. Sundah, Legenda Musik yang Berpulang di New York

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:21

Pelapor Dugaan Penggelapan Sertifikat Tanah Mengadu ke Kapolri

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:18

AS-Iran Saling Serang, Harga Minyak Naik Lagi

Jumat, 08 Mei 2026 | 09:07

Bursa Asia Lemah saat Selat Hormuz Kembali Tegang

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:56

Prabowo Naik Maung ke Pembukaan KTT ke-48 ASEAN di Filipina

Jumat, 08 Mei 2026 | 08:47

Selengkapnya