Berita

patrialis akbar/net

Yang Menolak Patrialis Bawa Kepentingan Asing?

RABU, 07 AGUSTUS 2013 | 16:10 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ditilik dari sudut manapun penolakan beberapa LSM terhadap Patrialis Akbar yang ditunjuk Presiden SBY menjadi Hakim Konstitusi mewakili pemerintah aneh dan mengada-ada. Bila dibiarkan, apalagi diikuti, penolakan itu akan menjadi preseden buruk ke depan.

Pasalnya, kelompok penolak cenderung memaksakan kehendak dan bernada ancaman. Dinilai memaksakan kehendak karena argumen yang disampaikan tidak valid. Dinilai bernada ancaman karena ada pernyataan bahwa Presiden SBY akan disomasi kalau tidak merevisi keppres tentang penunjukan Patrialis Akbar itu.

"Bila semua elemen masyarakat berperilaku seperti ini dikhawatirkan apa pun keputusan yang diambil oleh eksekutif dan legislatif akan digugat dan dipersoalkan. Padahal, keputusan itu sudah sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku dalam sistem negara demokrasi di Indonesia", ujar Virgo Sulianto, Ketua Divisi Advokasi Aliansi Masyarakat Pencinta Konstitusi (AMPK), dalam perbincangan beberapa saat lalu (Rabu, 7/8).


Dalam penilaian Virgo, kelompok LSM yang menolak Patrialis Akbar ini sudah sering melakukan manuver serupa terhadap berbagai keputusan politik yang diambil secara demokratis. Baru-baru ini, kelompok LSM ini juga paling getol dalam menolak RUU yang sudah disepakati DPR, pemerintah, dan sebagian besar masyarakat. Belakangan, isu penolakan itu justru dilontarkan karena adanya klausul tentang kewajiban melaporkan bantuan asing kepada ormas. Padahal, dalam argumen mereka selalu beranjak dari sudut berbeda. Tidak sedikit pun dikaitkan dengan persoalan dana asing itu.

"Kemarin kan salah satu TV swasta membuka persoalan itu dalam program mereka. Kelihatan betul, kelompok penolak ini tidak bisa memberikan argumentasi yang memuaskan. Tentu tidak salah bila kemudian sebagian orang berkesimpulan bahwa penolakan RUU ormas itu ternyata hanya persoalan uang, persoalan perut," katanya lagi.

Jangan sampai penolakan terhadap Patrialis Akbar juga terkait dengan hidden agenda. Walau bahasanya disebut melindungi konstitusi, tetapi kalau targetnya adalah memuluskan hidden agenda mereka, tetap saja bisa dinilai merusak konstitusi. Kepentingan siapa sesungguhnya yang terganggu dengan penunjukan Patrialis?

"Ada dua keanehan fundamental dalam penolakan mereka. Pertama, mengapa hanya Patrialis yang dipersoalkan, sementara Maria Farida Indrati yang diangkat dengan SK yang sama tidak? Kedua, mengapa hanya kelompok ini saja yang teriak-teriak mengajukan penolakan sementara sebagian besar masyarakat lainnya tidak ada yang keberatan?" demikian Virgo bertanya-tanya. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya