Berita

Merasakan Puasa Ramadhan Dengan Hati

SABTU, 27 JULI 2013 | 13:38 WIB | OLEH: MUHAMMAD SULTON FATONI

ALLAH Swt telah menjadikan Islam sebagai agama paripurna sebelum Rasulullah wafat. Kesempurnaan Islam untuk pemeluknya.

Setiap muslim mempunyai hak untuk merasakan kesempurnaan Islam, sebagaimana yang dirasakan sahabat Umar bin Khattab saat mendengar pertama kali dari Rasulullah saw. Memahami dan merasakan Islam sebagai agama yang sempurna membutuhkan ilmu dan amal. Setiap muslim perlu ilmu tentang Islam sekaligus beribadah sesuai dengan keilmuannya.

Memahami dan merasakan kesempurnaan Islam dapat dilakukan dengan tiga perspektif, pertama, Islam sebagai penjelasan (bayan), Seorang muslim tidak mungkin mengetahui sesuatu tentang Islam kecuali yang telah Allah jelaskan melalui Rasulullah. Pada konteks ini seorang muslim hanya perlu beriman saja, percaya saja atas apa yang sudah diajarkan Rasulullah. Ranah doktrinasi yang tidak perlu perdebatan. Contoh, ketentuan puasa Ramadhan yang hanya sebulan dalam satu tahun.


Kedua, Islam sebagai  agama rasionalitas (burhan). Pada ranah ini Allah Swt mendorong makhluk-Nya agar menggunakan logikanya untuk semakin memperkukuh keimanannya. Setiap muslim dimotivasi agar mengembangkan daya pikirnya sehingga semakin beriman kepada Allah Swt. Contoh, nash al-Quran dan hadits tentang proses Allah menjadikan manusia.

Ketiga, Agama dipahami dengan intuisi, hati (irfan). Pada ranah ini logika tidak mampu mencerna, namun juga bukan wilayah doktrinal. Contoh, Allah berfirman, “Allah memberi petunjuk -dengan cahaya-Nya- kepada siapa saja yang Ia kehendaki.” Contoh sederhana, Saat Khalifah Umar bin Khattab khutbah Jumat di Madinah, tiba-tiba redaksinya keluar konteks, “Hai pasukan, lihat gunung itu.” Suara Umar didengar pasukan muslim di Persia yang berjarak ribuan kilometer dari Madinah. Umar menunjukkan keberadaan musuh di gunung yang sedang mengancam mereka.

Saat ini banyak yang mengulas puasa Ramadhan dari aspek kesehatan, sosial, dan lainnya. Sah saja hal itu dilakukan. Memahami dan merasakan kenikmatan puasa Ramadhan tentu memerlukan ketiga aspek ilmu keislaman di atas dengan segala praktik peribadatannya. Namun yang perlu kita selalu ingat adalah sangat penting bagi setiap muslim untuk mampu merasakan puasa Ramadhan dengan hati. Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar mencatat tidak kurang dari 20 ucapan dan tindakan Rasulullah sejak awal hingga akhir bulan Ramadhan yang substansinya adalah doa dan harapan. Jika Rasulullah selalu berdoa dan berharap di bulan Ramadhan hal itu sebagai bentuk penyikapan puasa oleh hati dan hanya dirasakan hati, bukan logika maupun doktrin.

Memperbanyak doa di bulan Ramadhan mempunyai makna spesial hanya bagi orang-orang yang mampu menyempurnakan puasanya. Rasulullah bersabda, ada tiga jenis orang yang doanya tidak ditolak: orang puasa hingga selesai, pemimpin yang adil, dan orang yang dizalimi. Suatu hari Rasulullah mendatangi Sa’ad bin Ubadah sambil membawa roti dan kismis. Saat berbuka puasa, Rasulullah berdoa dan bersabda, “kalian berbuka bersama, makan bersama orang-orang yang mulia dan baik, serta salat bersama para malaikat.” Inilah wilayah irfan (intuisi, hati).

Lalu dari sekian banyak doa dan harapan yang telah diajarkan Rasulullah saw, seyogjanya tidak melupakan doa mohon ampunan atas segala kesalahan. Begitu juga juga doa untuk kebaikan umat Islam di seluruh dunia. Bahkan saat ‘lailatul qadar’, Rasulullah menasehati Siti Aisyah agar berdoa minta ampun kepada Allah atas segala kesalahan (allahumma innaka ‘afuwun tuhibul ‘afwa fa’fu ‘anny). Imam Syafii menambahkan agar memperbanyak berdoa untuk kebaikan seluruh umat Islam sebagai bentuk kontribusi positif untuk dunia. Wallahu A’lam bisshawab. ***

Penulis adalah Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Populer

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK-PPATK Diminta Pastikan Harta AHY dan Ibas dari Sumber Halal

Senin, 06 Juli 2026 | 17:38

UPDATE

Prabowo Akui Punya DNA India, Suka Bergoyang Kalau Ada Musik

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:09

Pansus DPR Desak Kemendagri Percepat Penyusunan DIM RUU Daerah Kepulauan

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:02

Kapolri Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau, Total Kini 110 Unit

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:50

KPK Harus Tegas, Pengembalian Amplop Raja Juli Tidak Hapus Dugaan Pidana

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:44

Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Tambang PT PMM, Ada Pegawai Bea Cukai

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:43

Prabowo Peluk Erat Modi saat Antar Kepulangannya Menuju India

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:34

Kekuatan Jokowi cuma Uang, Bukan Ideologi

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:32

Memahami Aturan Paspor Diplomatik: Siapa Saja yang Berhak Memilikinya?

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:18

Rekor Baru Messi di Piala Dunia Lewati Maradona

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:17

Ketidakadilan Laga Argentina vs Mesir Bersifat TSM

Rabu, 08 Juli 2026 | 15:00

Selengkapnya