Berita

jimmly asshiddiqie/net

Politik

Nonton Bareng Prabowo, Jimmly Didesak Mundur

RABU, 17 JULI 2013 | 22:51 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Indonesian Audit Watch mendorong segera dilakukan sidang etik terkait tindakan Ketua DKPP Jimmly Asshiddiqie nonton bareng bersama calon presiden yang juga pentolan Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto. Tindakan Jimmly tersebut dinilai menyalahi independensi, sementara dirinya sering menyerukan KPU dan Bawaslu untuk bersikap serupa.

"Kami mendorong agar DKPP yang di dalamnya ada komisioner KPU dan Bawaslu untuk membawa masalah itu ke sidang etik. Agar, kritik dari masyarakat menjadi momentum kontrol diri bukan malah kritik 'dilacikan' oleh DKPP," ujar Ketua Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW) Junisab Akbar dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Rabu (17/7).

Minggu pertama Juli 2013, Partai Persatuan Pembangunan melayangkan surat kepada Jimmly selaku ketua DKPP berisi kritik atas kelakuannya yang mau diajak nonton bareng film Sang Kyai oleh Prabowo tanggal 14 Juni 2013 di bioskop Metrepole Jakarta. Surat cerdas kepada Jimmly tertanggal 3 Juli dilayangkan PPP Kota Surakarta, Jawa Tengah ke Jakarta dengan ditandatangani oleh Ketua DPC Arif Sahudi. Dalam surat yang sudah beredar di kalangan wartawan tersebut ia mengkritik perilaku Jimmly yang sangat sembrono dalam menjalankan tugasnya.


"Jimmly kami anggap telah menyalahgunakan posisi untuk kepentingan politik karena diasumsikan mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo," sebut Arif dalam surat.

Arif menyebut tindakan Jimmly kurang etis karena publik sudah mengetahui Prabowo akan mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres mendatang. Agar lebih fair, dia menyarankan Jimmly nonton bareng dengan seluruh ketua umum partai politik agar tindakannya menonton bersama Prabowo menjadi etis. Itu karena Jimly selalu menggembar-gemborkan bahwa DKPP adalah lembaga penegak etik pemilu.

"Jimmly seharusnya sejak awal bersikap independen. Jangan dia menyatakan KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) saja yang independen namun dia sendiri yang tidak independen," lanjut Arif.

Namun ada kejanggalan terkait keberadaan surat yang juga ditembuskan ke Bawaslu dan ketua umum seluruh partai politiik peserta pemilu 2014 itu. Surat ternyata tidak ditemukan di Sekretariat DKPP padahal surat yang sama ada di Bawaslu dengan nomor agenda penerimaan surat 2839/KU/VII/2013. Diduga, tidak adanya surat itu di DKPP adalah 'permainan' administrasi.

Junisab menduga model administrasi seperti itu sebagai bentuk ketidak-fairan, tidak benar dan sangat amburadulnya DKPP. Surat kritik seharusnya bisa menjadi bagian dari perbaikan sikap Jimmly.

"Lebih baik dia mundur saja dari DKPP jika masih memiliki keinginan 'bermain politik' seperti disuarakan PPP dalam surat tersebut. Pendapat PPP benar. Saya mendukung suara PPP terkait kinerja dan perilaku Jimly saat nonton bareng itu," kata Junisab.

Mantan anggota DPR RI dari Partai Bintang Reformasi (PBR) ini mengaku sepakat dengan isi surat kritik PPP itu. Kata dia, Jimmly sekarang terlihat sudah seperti direktur utama sebuah perusahaan.

"Coba cek deh agenda kerja Jimmly ke berbagai daerah, apakah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari DKPP? Kalau dia mengklaim bahwa itu pekerjaan DKPP, pertanyaannya apakah pekerjaan ke daerah harus dia sendiri yang melakukannya? Kan banyak komisioner DKPP," ujar Junisab. [dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya