Berita

sembako/net

Politik

Harga Pangan Naik Diduga Ada Kartelisasi

SELASA, 16 JULI 2013 | 08:33 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Kenaikan tajam harga barang pangan dan bahan pokok diakibatkan banyak hal.

Seperti psikologi pasar bahwa setiap hari-hari besar agama terjadi kenaikan harga terutama saat Ramadhan, menjelang Lebaran, dan hari-hari besar agama. Kemudian setelah itu harganya akan normal kembali.

Tetapi jika kenaikan harga sampai lebih dari 30 persen maka akan terjadi ketidakseimbangan yang ekstrim antara penawaran (supply) dan permintaan (demand). Seperti harga bawang merah yang dilaporkan naik 49 persen dan daging sapi naik hingga 41 persen.


"Meningkatnya kebutuhan barang di pasar tidak diimbangi oleh pasokan barang yang cukup sehingga menyebabkan kenaikan harga." ujar Anggota Komisi IV DPR, Viva Yoga Mauladi kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa (16/7).

Jelas Viva, kenaikan harga bahan pangan ini juga dipicu oleh sistem dan mekanisme distribusi barang yang inefisien sehingga biaya transportasi high cost. Hal ini ditandai oleh lambannya proses bea cukai sehingga proses pengeluaran barang di pelabuhan (laut dan udara) berjalan lama. Juga karena sarana dan prasarana transportasi yang rusak atau karena faktor jarak yang jauh antara sentra produksi dan pasar.

Jika supply dan demand relatif telah seimbang tambah Viva, sistem dan mekanisme distribusi sudah tertata dengan baik. Tetapi harga bahan pangan masih tinggi, maka patut diduga terjadi praktek kartelisasi yang dilakukan oleh sekelompok pengusaha.

"Biasanya selalu berkonspirasi dengan oknum pemerintah sebagai policy maker's untuk mengontrol pasaokan bahan pangan ke pasar dan mengendalikan harga," tandas Wakil Ketua Fraksi PAN DPR RI Ini. [rsn]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya