aburizal bakrie
aburizal bakrie
Ajakan Akbar untuk mengetahui kenapa elektabilitas Aburizal stagnan itu memang sebuah keharusan. "Jadi memang elektabilitas itu harus direview," ujar pengamat politik senior dari LIPI Siti Zuhro kepada Rakyat Merdeka Online (Sabtu, 13/7).
Menurut Siti, dalam kehidupan ini, semua kemungkinan sangat terbuka, tak ada kata absolut, termasuk dalam politik. Bahkan, kalau sampai pencapresan Aburizal dianggap absolut, tak bisa direview, itu blunder dan bisa merugikan Partai Golkar.
"Dalam politik itu, kalau absolut, berarti membenturkan kepala ke tembok. Golkar ini tiga kali Pemilu, tidak pernah juara karena tidak pandai membaca psikologi masyarakat. Karena memaksakan kehendak. Pak JK kan memaksakan pada 2009," ungkapnya.
Apalagi, sambung Siti mengingatkan, 60-70 persen masyarakat Indonesia tidak golput. Umumnya mereka berasal dari kelas bawah, baik secara pendidikan maupun ekonomi. Mereka, dalam menentukan capres yang akan dipilih mengandalkan visual. Bahkan, imbuh Siti, suku, apalagi agama, masih dipertimbangkan. Meski kita tidak suka dengan isu SARA, tapi itu fakta.
"(Makanya) Lebih bagus (Golkar) mengikuti bagaimana tren, apa yang dibutuhkan negara dan bangsa, apa yang diharapkan masyarakat. Kepada siapa masyarakat ingin mempercayakan suaranya di pilpres. Itu harus dibaca terus," jelasnya.
Soal siapa yang paling digandrungi masyarakat saat ini, Board of Advisor Center CSIS, Jeffrie Geovanie, mengungkapkan, adalah Jokowi Widodo. Menurutnya, jika pemilihan Presiden RI dimajukan hari ini, dapat dipastikan Jokowi, yang merupakan kader PDIP itu akan terpilih sebagai pemenangnya dengan suara mutlak di atas 60 persen, siapa pun lawannya.
Menurut Jeffrie, PDIP harus menggandeng tokoh senior Golkar untuk dipasangkan dengan Jokowi jika tak berhasil menggaet Demokrat dan Gerindra. Tapi, tentu bukan Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie. Tapi Golkar pascamunas 2015. "Perlu tokoh Golkar agar memiliki dasar untuk mengambil-alih Golkar pada munas 2015. Kemudian Golkar pascamunas tersebut akan berkoalisi dengan PDIP," ungkapnya. [zul]
Populer
Minggu, 05 April 2026 | 09:04
Sabtu, 04 April 2026 | 02:17
Rabu, 01 April 2026 | 18:05
Sabtu, 04 April 2026 | 02:23
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
UPDATE
Selasa, 07 April 2026 | 04:15
Selasa, 07 April 2026 | 04:04
Selasa, 07 April 2026 | 03:38
Selasa, 07 April 2026 | 03:15
Selasa, 07 April 2026 | 03:00
Selasa, 07 April 2026 | 02:25
Selasa, 07 April 2026 | 02:11
Selasa, 07 April 2026 | 02:07
Selasa, 07 April 2026 | 01:36
Selasa, 07 April 2026 | 01:12