Berita

hajriyanto y. thohari

Waka MPR: Perbedaan Awal Ramadhan Hal Biasa, Tak Perlu Didramatisasi

SENIN, 08 JULI 2013 | 21:07 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Perbedaan awal Ramadhan di Indonesia bukanlah fenomena baru. Perbedaan itu sudah berusia setua sejak Islam masuk dan berkembang di negeri ini. Perbedaan tersebut murni hanya terkait dengan metode atau metodologi penentuan awal bulan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan moderen.

Makanya, jelas Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y. Thohari, dalam keterangannya, (Senin, 8/7), perbedaan tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan, apalagi disikapi secara dramatis sedemikian rupa seakan-akan terjadi perpecahan umat Islam. Lebih tidak proporsional lagi jika perbedaan penentuan awal Ramadhan dikaitkan dengan relasi umat Islam dan pemerintah, atau apalagi dikaitkan dengan doktrin ketaatan umat Islam kepada ulil amri atau pemimpin.

"Umat Islam Indonesia semakin cerdas dan pemerintah sebagai wakil negara juga semakin arif bijaksana. Pemerintah tahu mana-mana urusan yang urgen untuk diurus, dan mana-mana yang tidak urgen untuk diurus serta mana-mana yang tidak boleh dicampuri," imbuh Ketua DPP Partai Golkar ini.

Karena, ungkap Hajriyanto mengingatkan, Indonesia negara Pancasila, bukan negara teokrasi atau apalagi negara agama. Negara harus mengambil jarak yang tepat dalam relasinya terhadap agama-agama. Negara ini adalah negara yang sangat majemuk, negara yang Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinekaan atau kemajemukan ada dalam bentuk keanekaragaman agama-agama, juga kebhinekaan atau keanekaragamaan madzhab internal agama.

"Kebhinekaan dan kemajemukan itu harus dihormati oleh negara. Negara tidak boleh terlalu terlibat mengurusi madzhab atau paham keagamaan. Pasalnya, memang soal madzhab bukan urusan negara. Negara ini bukan milik agama tertentu, apalagi aliran madzhab tertentu, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia apapun sukunya, apapun agamanya, dan bahkan apapun madzhab-nya," tandasnya. [zul]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya