Berita

Bahaya, Partisipasi Rakyat dalam Pemilu Terus Menurun

JUMAT, 05 JULI 2013 | 15:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pemilihan Umum sangat penting dalam membangun demokrasi. Karena itu Pemilu harus dijaga dan terus ditingkatkan partisipasinya maupun kualitas penyelenggaraannya.

"Dulu tingkat partisipasi Pemilu 1999, 80 persen. Pemilu 2004, 70 persen dan Pemilu 2009 di bawah 70 persen. Ini bahaya untuk kualitas demokrasi," ujar dosen Fisip UIN, Jakarta Ahamd Bakir Ihsan dalam Diskusi Publik "Membangun Indonesia Melalui Pemilu 2014 yang Demokratis, Jujur dan Damai" di kampus UIN Jakarta kemarin.

Juga hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang digelar BEM Jurusan Perbandingan Agama UIN Jakarta itu pengamat politik Siti Zuhro dan Ketua Umum Gerindra Suhardi.


Untuk itu, tambah Bakir, parpol harus mendorong peningkatan partisipasi politik pada masyarakat. Artinya parpol perlu memperbaiki citra mereka yang cenderung negatif. "Masyarakat tidak merasakan kehadiran partai. Ini karena partai hanya sibuk pada Pemilukada atau menjelang Pemilu saja," jelas Bakir yang juga Staff Khusus Presiden RI ini.

Selain itu kata Bakir, banyak partai tidak mampu membangun kepercayaan publik. Misalnya partai Islam yang harusnya memiliki ikatan emosional keagamaan nyatanya hanya bisa jadi partai menengah saja. "Itu artinya partai politik gagal membangun kepercayaan mereka," ujar tandasnya.

Sementara, Suhardi mengatakan tujuan pemilu atau politik adalah mengubah nasib suatu bangsa. Jadi kalau ada orang yang apatis bahkan tidak mau berpartisipasi, artinya mereka tidak mau mengubah nasibnya. "Banyak keputusan yang keluar dari DPR dan mempengaruhi nasib masyarakat Indonesia. Maka harus benar-benar selektif memilih wakil rakyat dan presiden," katanya.

Suhardi mengakui pada pemilu lalu  banyak kecurangan yang terjadi maka masyarakat perlu ikut serta melakukan pengawasan. "Mayarakat perlu mengawasi pemilu kalau mau nasibnya semakin baik," ujarnya.

Terkait ancaman meningkatnya golput Suhardi mengatakan itu adalah tindakan yang tidal benar dan dilarang agama. "Golput itu mendekati haram karena tidak perduli dan berusaha mengubah nasib ke arah kehidupan yang lebih baik," pungkasnya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya