Berita

Korea Utara Sesalkan Sinisme Korea Selatan

KAMIS, 13 JUNI 2013 | 08:35 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Pembicaraan damai antara kedua Korea kembali terhenti. Korea Utara batal mengirimkan pejabat setingkat menteri dalam pertemuan yang direncanakan berlangsung di Seoul pekan ini.

Pertemuan tersebut sedianya merupakan kelanjutan dari pertemuan pejabat rendah di Panmunjom yang baru berlangsung setelah kebekuan dialog selama lebih dari dua tahun. Pertemuan di Panmunjom dan Seoul ini digelar untuk membicarakan kembali, antara lain, pembukaan kompleks industri Kaesong yang ditutup April lalu.

Seoul menginginkan seorang pejabat senior di Partai Pekerja Korut, Kim Yang-gon, yang dikenal sebagai penasihat dekat pemimpin Korut Kim Jong-un menghadiri pertemuan itu. Sementara Pyongyang mengatakan, hal itu tidak mungkin dilakukan karena secara protokoler Kim Jong-gan terlalu senior untuk pertemuan ini.


Di sisi lain, Pyongyang mengatakan bahwa penyebab utama keengganan mereka mengirimkan delegasi bukan karena permintaan tersebut, melainkan karena sinisme yang dikembangkan delegasi dalam pertemuan pembuka di Panmunjom.

"Masalahnya tidak sederha berkaitan dengan persoalan siapa yang memimpin delegasi dalam pertemuan, tetapi lebih karena manifestasi dari sinisme yang dilakukan (Korea Selatan)," demikian pernyataan Komite Reunifikasi Damai Korea yang dirilin kantor berita KCNA di Pyongyang.

Sejumlah pengamat dan pakar isu Korea memperkirakan tidak mudah menggelar pertemuan untuk pembicaraan damai menyusul sejumlah insiden beberapa tahun terakhir ini.

"Perang urat syaraf berarti tidak terlihat akan ada terobosan mudah yang akan membawa (kedua Korea) pada dialog dalam waktu dekat," ujar Yang Moo-jin dari University of North Korean Studies di Seoul seperti dikutip Reuters.

Sementara Jang Jin-sung, seorang mantan pejabat Korea Utara yang sekarang memimpin website informasi New Focus International mengatakan bahwa Korea Utara memiliki prilaku yang sudah bisa ditebak, membuat ketegangan, sebelum akhirnya meminta bantuan sebagai kompensasi atas ketegangan itu. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya