Berita

Adinda Tenriangke Muchtar

Kalau Tertutup, Konvensi Demokrat Sulit Lahirkan Capres Berkualitas

SENIN, 10 JUNI 2013 | 17:11 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kalau melihat hasil survei calon presiden dari berbagai lembaga belakangan ini, nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memang yang paling difavoritkan.

"Memang yang terlihat jelas secara survei, model yang diinginkan itu masih modelnya Jokowi. Saya setuju dengan apa yang disampaikan Bang Jeffrie soal (kemungkinan) sekarang atau nanti. Kalau menurut saya, kemungkinan dalam politik banyak. Tapi yang paling penting itu momentum," ujar Direktur Program di The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII) Adinda Tenriangke Muchtar (Senin 10/6).

Meski begitu, ungkap Adinda, masih ada lembaga survei yang tidak memasukkan nama Jokowi dalam survei karena memang PDIP belum menominasikan mantan Walikota Solo itu. Tapi peluang Jokowi untuk diusung partai banteng itu besar.


"Bukan tidak mungkin juga Megawati (Ketum PDIP) secara legowo memberikan kesempatan kepada tokoh muda. Itu kan salah satu pesan Almarhum Pak Taufiq (Kiemas) agar anak muda yang maju. Jokowi potensial dalam hal itu," ungkapnya.

Adinda tak menampik, akan ada ada orang yang menolak Jokowi. Karena Jokowi harus menuntaskan tanggung jawabnya memimpin Jakarta hingga 2017.

"Dia punya tanggung jawab secara moral kepada pemilihnya. Bayangkan saja dia baru terpilih di Jakarta. Tapi saya pikir, dia calon yang cukup kuat dari yang mewakili partai politik ya. Yang lain juga cukup bagus, yang dari independen. Makanya tergantung konvensi Demokrat," sambung Dinda.

Adinda yakin, peserta konvensi pasti akan memilih calon terbaik. Tapi tetap harus dilihat seberapa rela kader partai politik memberikan kesempatan kepada orang di luar partai untuk diusung sebagai capres.  Karena itu, keterbukaan akan menjadi tantangan Partai Demokrat dalam menyelenggarakan konvensi.

"UU 14/2008 soal Keterbukaan Informasi Publik diterapkan nggak oleh partai politik. Saya pikir itu (konvensi) akan menjadi media yang sangat hangat. Dalam artian orang akan bisa memantau itu. Bagaimana sih nasib calon independen kalau ikut konvensi. Mereka di-gimana-in. Sekompetitif apa, seprofesional apa mereka diperlakukan. Karena ini untuk RI 1 lho," jelasnya.

Tapi kalau konvensi Demokrat digelar secara tertutup, Adinda menilai, agak sulit calon yang berkualitas keluar sebagai pemenang. Apalagi politik uang sangat rentan terjadi di partai politik pada setiap acara-acara pemilihan. "Secara pencalonan saya pikir sih, cukup promising ya. Tapi bagaimana proses sebenarnya, nanti dulu. Karena kita belum tahu," tandasnya.

Sebelumnya, board of advisor CSIS, Jeffrie Geovanie, menjelaskan, kalau pemilihan presiden RI digelar hari ini, dipastikan Jokowi akan terpilih sebagai presiden dengan suara mutlak di atas 60 persen, siapa pun lawannya. Namun, karena pilpres baru akan digelar tahun 2014 mendatang, kepastian bahwa mantan Walikota Solo itu akan tampil sebagai pemenang, terpaksa harus bersabar dulu.

Menurut Jeffrie, waktu satu tahun ke depan ini akan sangat bergantung pada keberhasilan konvensi capres Partai Demokrat. Bila berjalan sangat demokratis dan diikuti calon-calon presiden dari generasi baru seperti Gita Wirjawan, Mahfud MD, Marzuki Ali, Irman Gusman, Dino Pati Jalal, Chairul Tanjung,  konvensi berarti melahirkan penantang baru yang bisa mengimbangi Jokowi.  Tapi kalau tidak, maka 2014 yang akan datang, teka tekinya hanya siapa yang akan menjadi wakil presiden Indonesia berikutnya. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya