Berita

ilustrasi

BLT, Sogokan Ekonomi Model Peronisme untuk Tumpulkan Kemarahan Rakyat

SENIN, 10 JUNI 2013 | 15:57 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Koordinator Petisi 28, Haris Rusly, mengingatkan akan film musikal Evita Peron, istri Presiden Argentina, Jenderal Juan Peron, dengan lagu Don't Cry for Me Argentina.

Dalam sepenggal kisahnya di dalam film tersebut, ditampilkan ketika sang Nyonya Negara membagikan uang tunai kepada rakyat miskin dengan tujuan agar rakyat tak melawan suaminya yang korup, diktator dan menindas.

Menurut Haris Rusly, model Peronisme tersebut kini dipakai World Bank dengan sejumlah modifikasi dan diberlakukan di berbagai negara, Amerika Latin dan juga Indonesia. Model "Peronisme" tersebut ditujukan untuk mengganti kebijakan subsidi kesejahteraan yang dinilai World Bank sebagai distorsi pasar karena mengganggu bisnis kesehatan, bisnis pendidikan, bisnis minyak, dan lain-lain.


"Karena itu, saya menilai pemerintahan SBY tak pernah ikhlas menolong rakyat dengan kebijakan BLT (Bantuang Langsung Tunai). Bila pemerintah SBY ikhlas, maka subsidi harus diberlakukan kembali & bersifat permanen, seperti yang berlaku di negara-negara kesejahteraan, tak bersifat sementara," ungkapnya (Senin, 10/6).

Tujuan BLT, yang saat ini disebut Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), dipastikan, semata-mata hanya untuk menolong eksistensi politik dan ekonomi dari rezim SBY-Parlemen agar tetap berkuasa dan merampok uang rakyat. BLT menolong eksistensi politik SBY karena menyogok rakyat untuk tujuan menumpulkan kemarahan rakyat akibat kenaikan harga BBM serta agar rakyat kembali pilih Demokrat di Pemilu 2014.

"Menolong eksistensi ekonomi adalah, pertama, semata untuk tujuan menstimulus daya beli masyarakat yang tertekan akibat kenaikan harga BBM," urai Rusly.

Daya beli masyarakat yang tertekan akibat kenaikan harga BBM, akan menyebabkan ekonomi nasional stuck, menghambat pertumbuhan dan  memicu krisis ekonomi yang lebih luas. Tujuan kedua, menambah pundi-pundi kekayaan elite politik yang hidup dari mengambil fee ekspor minyak mentah dan impor minyak jadi karena tak ada kemauan membangun industri nasional pengolahan minyak mentah.

Karena itu, Rusly menegaskan, "Tolak kenaikan harga BBM. Tolak kebijakan populisme tipu-tipu model "rezim BLT" SBY." [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya