Berita

ist

Agroforestri Mampu Turunkan Emisi Karbon Hingga 30 Persen

MINGGU, 26 MEI 2013 | 10:11 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Agroforestri yang diimplementasikan pada tempat-tempat dengan cadangan karbon rendah dan nilai ekonomi rendah akan mampu menurunkan emisi karbon hingga 30 persen. Selain itu, implementasi agroforestri ini juga dapat meningkatkan nilai ekonomi penggunaan lahan sekitar 20 persen.

Begitu dikatakan pakar pertanian dari Universitas Brawijaya Malang Kurniatur Hairiah kepada wartawan di Malang, Jawa Timur, Minggu (26/5).

Akan tetapi, lanjutnya, nilai keuntungan tersebut di lapangan akan bervariasi, tergantung pada produksi pohon yang dipengaruhi oleh kesesuaian jenis pohon dengan lokasi yang dipilih, manajemen lahan serta permintaan pasar.


Menurut dia, agroforestri adalah menanam jenis tanaman tahunan dengan optimalisasi lahan untuk menambah pendapatan sekaligus melestarikan lingkungan.

Ia mengakui, di era perubahan iklim saat ini, masalah pertanian semakin kompleks, tidak hanya di sektor ekonomi, tapi juga dari sektor sosial dan lingkungan berupa air, biodiversitas serta cadangan karbon.

Upaya penghitungan emisi dari setiap provinsi di Indonesia sangat dibutuhkan saat ini untuk mendukung pemerintah dalam meyakinkan dunia bahwa pada tahun 2020 Indonesia mampu menurunkan emisi CO2, CH4 dan N2) (GRK) sebesar 26 persen.

Di Jawa Timur, katanya, mampu menekan emisi melalui peningkatan agroforestri atau hutan rakyat sekitar 22 persen dari total luasan sebelumnya 756.163 hektare (2006) dan meningkat menjadi 1.052.550 hektare (2012).

Hanya saja, kata Kurniatun, saat ini paradigma pengelolaan agroforestri sedikit berubah karena dorongan kepentingan lokal, seperti jenis tanaman (pohon) yang ditanam dan kepentingan global, seperti pengentasan kemiskinan serta ketahanan pangan.

Sebab, di tingkat plot, pohon dalam sistem agroforestri sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesuburan tanah, pengendalian limpasan permukaan dan erosi, pengendalian serangan hama serta penyakit.

Pada kenyataannya, tegas Kurniatun, tidak semua pohon dapat memberikan dampak yang menguntungkan, tergantung dari pengelolaannya antara lain meliputi jenis tanaman dan kombinasinya dengan penyusunan lainnya, misalnya ternak, ikan atau lebah.

"Selain itu, juga dipengaruhi oleh pengaturan sinar yang mausk melalui pengaturan pola tanam dan pemangkasan cabang, pemupukan tumbuhan bawah, pengaturan kedalaman perakaran tanaman untuk mengurangi kehilangan hara," ujarnya seperti dilansir kantor berita Antara. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya