Berita

ilustrasi/ist

Politik

Ungkap Kebiadaban Mei 98!

SELASA, 21 MEI 2013 | 19:29 WIB | OLEH: ADIAN NAPITUPULU

MEI 1998 Indonesia memanas. Soeharto belum dua bulan dilantik jadi Presiden, penolakan mahasiswa dan rakyat meningkat. Soeharto menjawab dengan memobilisasi hampir separuh kekuatan militer di Pulau Jawa untuk masuk Jakarta.

Tentara dan polisi bertebaran di setiap tikungan jalan, menenteng senjata dengan garis merah di magazin penanda berisi peluru tajam. Logika awam, ketika banyak ribuan tentara dan polisi harusnya situasi jadi aman, ketika di setiap sudut kota ada polisi dan tentara maka harusnya rakyat menjadi tenang.

Tapi logika awam ternyata tak sejalan dengan fakta. Kerusuhan Mei 1998 terjadi bukan di saat tentara dan polisi tak ada, tetapi justeru di saat tentara dan polisi bertebaran di sepanjang jalan dan perumahan.


15 tahun sudah berlalu, kubur para korban sudah mengering, air mata orang tua sudah tak lagi bisa menetes. Partai-partai berdiri, pemilu berlalu tiga kali, presiden, gubernur, Kapolri, Kasad sudah gonta ganti. Tapi hingga hari ini, tak ada jawaban siapa sesungguhnya yang membunuh Moses di Jogja, siapa yang menembak empat mahasiswa Trisakti, sembilan mahasiswa di Semanggi, dua mahasiswa di Sumut, dua mahasiswa di Lampung, satu mahasiwa di Palembang, satu pelajar SMU di Slipi?

Setelah 15 tahun, tak pernah ada jawaban tentang siapa sesungguhnya pelaku kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di hari, tanggal, bulan, dan tahun yang sama serentak di berbagai kota?

Siapa yang sanggup lakukan kerusuhan, pembunuhan, pemerkosaan massal serentak di seantero negeri dan hingga hari ini tak pernah ditangkap? Siapa yang sanggup membakar hangus puluhan orang di Bioskop Klender dan hingga hari ini tak pernah ditangkap?

Tak ada yang tahu sekuat apa si pemberi perintah sehingga tak satupun pelaku bisa diadili. Sekuat apa si pemberi perintah hingga partai-partai yang berdiri di atas lautan darah seolah tak peduli. Sekuat apa dia hingga para aktivis rekan para korban bisa puas dengan menyalakan lilin satu kali di tiap bulan Mei.[***]

Penulis adalah Sekjen Perhimpunan Nasional Aktivis 98 (PENA 98)

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

KPK Panggil Beni Saputra Markus di Kejari Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 13:09

UPDATE

Kemenhut Sebut Kejagung Hanya Mencocokkan Data, Bukan Penggeledahan

Kamis, 08 Januari 2026 | 00:04

Strategi Maritim Mutlak Diperlukan Hadapi Ketidakpastian di 2026

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:49

Komplotan Curanmor Nekat Tembak Warga Usai Dipergoki

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:30

Pemuda Katolik Ajak Umat Bangun Kebaikan untuk Dunia dan Indonesia

Rabu, 07 Januari 2026 | 23:01

PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD karena Tak Mau Tinggalkan Rakyat

Rabu, 07 Januari 2026 | 22:39

Penjelasan Wakil Ketua DPRD MQ Iswara Soal Tunda Bayar Infrastruktur Pemprov Jabar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:56

Kejagung Geledah Kantor Kemenhut terkait Kasus yang Di-SP3 KPK

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:39

84 Persen Gen Z Tolak Pilkada Lewat DPRD

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:33

Draf Perpres TNI Atasi Terorisme Perlu Dikaji Ulang

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:09

Harta Anggota KPU DKI Astri Megatari Tembus Rp7,9 Miliar

Rabu, 07 Januari 2026 | 21:07

Selengkapnya