ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
MEI 1998 Indonesia memanas. Soeharto belum dua bulan dilantik jadi Presiden, penolakan mahasiswa dan rakyat meningkat. Soeharto menjawab dengan memobilisasi hampir separuh kekuatan militer di Pulau Jawa untuk masuk Jakarta.
Tentara dan polisi bertebaran di setiap tikungan jalan, menenteng senjata dengan garis merah di magazin penanda berisi peluru tajam. Logika awam, ketika banyak ribuan tentara dan polisi harusnya situasi jadi aman, ketika di setiap sudut kota ada polisi dan tentara maka harusnya rakyat menjadi tenang.
Tapi logika awam ternyata tak sejalan dengan fakta. Kerusuhan Mei 1998 terjadi bukan di saat tentara dan polisi tak ada, tetapi justeru di saat tentara dan polisi bertebaran di sepanjang jalan dan perumahan.
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Senin, 29 Desember 2025 | 00:40
Senin, 29 Desember 2025 | 01:10
Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54
Senin, 29 Desember 2025 | 08:40
Senin, 29 Desember 2025 | 13:09
UPDATE
Kamis, 08 Januari 2026 | 00:04
Rabu, 07 Januari 2026 | 23:49
Rabu, 07 Januari 2026 | 23:30
Rabu, 07 Januari 2026 | 23:01
Rabu, 07 Januari 2026 | 22:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 21:56
Rabu, 07 Januari 2026 | 21:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 21:33
Rabu, 07 Januari 2026 | 21:09
Rabu, 07 Januari 2026 | 21:07