Berita

Sentra Gakkumdu Harus Fokus ke Politik Uang

KAMIS, 16 MEI 2013 | 06:49 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Saat ini Bawaslu bersama Polri dan Kejaksaan Agung sedang koordinasi dalam Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu) untuk menyamakan persepsi tentang penanganan pelanggaran pidana Pemilu.

Deputi Jaringan Pendidikan Pemilihan untuk Rakyat (JPPR) Masykuruddin Hadidz menjelaskan salah satu pelanggaran pidana yang paling sulit untuk dijangkau dan dilengkapi alat buktinya adalah politik uang.

Selama ini, pelanggaran politik uang misalnya jual beli suara berhenti di lembaga pengawas Pemilu untuk diproses selanjutnya karena tidak cukup alat bukti, padahal politik uang nyata-nyata terjadi.


Politik uang juga semakin sulit dibuktikan karena pemberi dan penerima sama-sama mendorong untuk menyembunyikan kejadian transaksi tersebut.

Padahal, kata dia, politik uang adalah tindakan paling buruk dan primitif dalam mempengaruhi suara pemilih. Menyebar uang dan barang secara sporadis dalam Pemilu adalah praktik kotor yang nyata-nyata ingin membeli suara rakyat sehingga tidak perlu didengar ketika nanti berkuasa.

Oleh karena itu, salah satu fokus Sentra Gakkumdu terhadap pelanggaran pidana Pemilu seharusnya adalah praktik politik uang dengan segala variasinya. "Penanganan tindakan politik uang harus dimulai oleh Sentra Gakkumdu dari awal yaitu darimana uang dana kampanye masuk dan kemana dikeluarkan," jelasnya pagi ini (Kamis, 16/5).

Transaksi keuangan dan praktik jual beli suara ditangani serius oleh Pengawas Pemilu sehingga bukti-buktinya lengkap saat diteruskan ke kepolisian.  "Dengan begitu, Sentra Gakkumdu dapat berfungsi dari kondisi yang selama ini kita rasakan tetapi pelakunya tidak dapat hukuman, yaitu politik uang," tandasnya. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya