Berita

hatta taliwang

Tak Mau Diperbudak, Alasan Hatta Tak Mau Nyaleg

SELASA, 14 MEI 2013 | 06:19 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Saat ini banyak orang, dari berbagai elemen masyarakat, ramai-ramai mendaftar sebagai calon anggota legislatif. Dalihnya, ingin memperjuangkan aspirasi rakyat.

Benarkah demikian? Mantan anggota DPR dari PAN Hatta Taliwang menampiknya. Dia tidak yakin, jargon-jargon membela dan menyuarakan kepentingan rakyat akan dilakukan andai terpilih.

"Saya akan deskripsikan secara sederhana dan ringkas proses sejak dari caleg sampai menjadi anggota legislatif," kata Hatta memulai penjelasaannya (Selasa, 14/5).


Hatta mengungkapkan, anggaplah seseorang pada Pemilu 2014 terpilih menjadi anggota DPR RI. Fungsinya sudah jelas: pengawasan pemerintah, mengatur anggaran dan membuat UU bersama Pemerintah.

"Ketika anda duduk di DPR dipilih oleh rakyat semestinyalah anda mewakili rakyat dan mengartikulasilkan kepentingan rakyat. Sesuai bunyi kampanye anda ke rakyat," kata Hatta.

Tapi apakah semudah dan sesederhana itu urusannya? Ternyata tidak. Karena sampai di Senayan para anggota Dewan itu tiba-tiba seperti 'karyawan politik'. Ada birokrasi partai yang disebut 'Fraksi', yang akan mengatur: volume dan substansi yang boleh disuarakan di Senayan.

"Anda tidak lagi mandiri untuk menyuarakan apa yang jadi titipan rakyat atau yang menjadi suara nurani anda. Ada 'filter partai' yang akan mengontrol semua kata dan sikap anda. Anda seakan 'tersandera' dan tidak bebas lagi bersuara seperti ketika jadi aktivis LSM atau pengacara atau dosen dan lain-lain," dalih Hatta.

"Suara anda yang 560-an orang itu diatur oleh dirigen yang bernama Ketua Partai yang cuma belasan orang itu. Itulah 'dewa' yang harus anda 'sembah'. Karena kalau mbalelo anda akan ditendang dari Senayan atau tidak akan dicalegkan lagi.

Lalu siapakah belasan orang “dewa” itu?

Hampir semua pemilik kuasa/pemilik modal yang merasa punya saham terbesar di 'PT.Indonesia' yang dengan kekuatan duit bisa menguasai partai. Dibalik mereka adalagi “superpower” atas nama liberalisme politilk dan ekonomi mengatur arah bangsa Indonesia.

"Lalu rakyat yang anda wakili dimana? Sejak anda masuk Senayan rakyat sudah masuk 'tong sampah.' Karena itulah saya tidak tertarik lagi jadi caleg dalam sistem kepartaian dan keparlemenan seperti ini. Tak ingin kebebasan yg kami nikmati sekarang tersandera. Tak sudi cuma jadi anggota koor yang membohongi rakyat dan hidup dalam kepalsuan," jelas Hatta.

Karena itu, Hatta mengaku lebih baik berjuang memperkuat civil society untuk merubah aturan-aturan dan sistem yang berkhianat ini.

"Minimal mengajukan judicial review ke MK untuk merubah semua itu. Itulah minimal langkah sambil menunggu kawan-kawan berkumpul untuk revolusi menegakkan demokrasi yang sesungguhnya," tandas Hatta yang juga Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno-Hatta ini.

Tapi Hatta buru-buru menambahkan bahwa apa yang ia sampaikan di atas bukan sebagai pembelaan diri atau untuk menegasikan para teman-temannya yang sedang bergairah menjadi caleg. "Ini cuma wacana untuk kita diskusikan demi peningkatan kualitas demokrasi kita," demikian Hatta. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya