Kebanyakan duduk ternyata bisa menyebabkan risiko penyakit kronik, seperti penyakit jantung, diabetes, kanker atau tekanan darah tinggi lebih besar. Semakin duduk lama, semakin tinggi pula risiko penyakit kronik. Terlebih bagi oarang yang berusia 45-65 tahun. Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari total penderita penyakit diabetes hanya 34,8 persen yang bisa bekerja secara normal.
Berdasarkan penelitian daÂri Kansas State University, duduk lebih dari empat jam per hari meÂmiliki insiden menderita peÂnyaÂkit kronik seperti penyakit janÂtung, diabetes, kanker atau teÂkaÂnan darah tinggi lebih besar. Hal ini dikarenakan minimnya peÂÂngeluaran energi, sehingga pereÂdaran darah menjadi terhambat.
Makin lama waktu yang diÂhaÂbiskan untuk duduk setiap hari, makin tinggi risikonya terkena peÂnyakit kronis. Durasi duduk diÂbagi dalam empat kelompok, yaÂitu duduk 4 jam per hari, 4-6 jam per hari, 6-8 jam per hari, dan leÂbih dari 8 jam.
Spesialis penyakit dalam FaÂkulÂtas Kedokteran Universitas IndoÂnesia (FKUI), Rumah Sakit CipÂto Mangunkusumo (RSCM) Prof dr Pradana Soewondo meneÂrangÂkan, kebiasaan duduk lama mesti diÂwaspadai terutama di usia muda.
“Di negara maju, usia di atas 65 tahun paling rentan diabetes. SeÂmentara di negara berkemÂbang, usia 45-64 tahun. KeÂbiasaan buruk harus ditinggalkan.
Jangan sampai menjadi beban pemeÂrinÂtah,†kata Pradana di acaÂra
media briefing bertajuk ‘PartÂnership for Diabetes Control in InÂdonesia’ di Jakarta, Jumat (3/5).
Saat ini, ada sekitar 12 juta penderita diabetes di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) bahÂkan memÂprediksi, penderita diabetes akan meningkat hingga 21,3 juta orang di tahun 2030. Indonesia masuk peringkat 4 di dunia setelah AmeÂrika Serikat, China dan India.
“Jangan pernah menganggap enteng suatu penyakit. Seringkali orang tidak menganggap penting untuk melakukan pencegahan, nanti jika sudah terkena, baru menyesal,†terangnya.
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan hiperglikemia (tingginya kadar glukosa dalam darah). Diabetes melitus dapat mengaÂkiÂbatkan kerusakan pada beberapa organ tubuh. Seperti mata saraf dan ginjal serta berpotensi berÂkemÂbangnya proses penyakit aterosklerosis yang akan berefek pada gangguan jantung, otak dan organ lain dalam tubuh.
Ketua Perkumpulan EndokriÂnoÂlogi (PERKENI) Pusat ini meÂngaÂtakan, diabetes ini dapat memÂbuat penderita tidak bisa melaÂkuÂkan aktivitas sehari-hari. Hal ini diÂkaÂrenakan kompliÂkaÂsiÂnya yang memÂbuat kondisi tubuh tiÂdÂak puÂnya kemampuan untuk bekerja lagi.
“Penderita harus rutin cek daÂrah, tubuh lemas, belum lagi jika konÂdiÂsinya sudah parah, pasien dihaÂrusÂkan suntik insulin. Ini bisa saÂngat mengganggu aktivitas,†ucapnya.
Kemudian, lanjutnya, penÂderita akan memiliki umur lima tahun lebih pendek dibandingkan orang sehat. Penderita diabetes kata Prof Pradana, harus melaÂkukan pengoÂbatan secara rutin jika ingin konÂdisinya tidak seÂmakin buruk.
Direktur Penyakit Tidak MeÂnular Dirjen P2PL Kementerian KeÂsehatan, Ekowati Rahajeng meÂnambahkan, kondisi lanjutan dari diabetes yang sudah parah, bisa meÂrusak retina (retinopathy), seraÂbut saraf yang ditandai deÂngan mati rasa (neuropathy), gaÂgal jantung, stroke, hingga risiko amputasi.
“Saat ini dari total seluruh penÂderita diabetes hanya sekitar 34,8 persen yang bisa bekerja secara normal. Sisanya tidak bisa lagi melakukan aktivitasnya,†ungkap Rahajeng.
Ia menyarankan, untuk menceÂgah timbulnya risiko tinggi diaÂbetes, perbaikan gaya hidup yang sehat, seperti mengurangi kadar gula dalam konsumsi makanan sehari-hari, menerapkan pola makan sehat dengan sayur dan buah-buahan, menyediakan wakÂtu untuk rutin olahraga lima kali dalam seminggu, tidak merokok dan istirahat cukup.
Siapkan 5.000 Dokter, Pelayanan Puskesmas Perlu Digeber Agar Maksimal
Minimnya fasilitas medis dan infrastruktur pelayanan primer, Puskesmas menyebabkan penaÂngaÂnan penderita diabetes tidak opÂtimal. Padahal, penanganan diaÂbetes tidak harus di rumah saÂkit, tetapi bisa di tingkat layanan primer yang ada di daerahnya.
Hal tersebut diungkapkan KeÂtua Perkumpulan Endokrinologi Pusat, Prof dr Pradana Soewondo di acara diskusi kesehatan soal diabetes di Jakarta, Jumat (3/5).
Menurut Dokter Spesialis PeÂnyaÂkit Dalam FKUI/RSCM ini, penyakit diabetes melitus perlu ditangani dengan tepat untuk mencegah komplikasi.
“Makanya, pasien diabetes diharapkan bisa mengontrol peÂnyakitnya dengan teratur. Jangan terpusat di rumah sakit, tapi peÂlayanan di tingkat layanan primer bisa dilakukan,†jelas dr Pradana.
Ia mengatakan, perawatan yang tepat dan pengobatan yang berÂkelanjutan sangat penting dalam mempertahankan kualitas hidup penderita diabetes. PeraÂwatan tersebut juga bisa mengenÂdalikan laju prevalensi, karena penyakit ini dapat meÂnimÂbulkan komplikasi dan membawa comorbidity apabila tidak dirawat dengan baik.
“Diharapkan masyarakat lebih mudah mendapatkan akses keseÂhatan melalui dokter umum yang telah memiliki kapasitas melakuÂkan diagnosa, peÂngoÂbatan awal dan monitoring pengobatan bagi penÂderita diaÂbetes,†kata dr Pradana.
Tahun ini, Kementerian KeseÂhatan (Kemenkes) menargetkan, pelatihan khusus penangÂguÂlaÂngan dan pengobatan diabetes terÂhadap 5.000 dokter umum yang bertugas di Puskesmas. SeÂlain itu, sudah dilatih sebanyak 120 dokter peÂnyaÂkit dalam yang akan melatih sedikitnya 60 dokter umum reÂgioÂnal di tempatnya berpraktik.
Adapun materi pelatihan yang diberikan mencakup pengetahuan dasar akan penyakit dan faktor risiko, pengobatan dan komÂpliÂkasi penyakit, serta cara berÂkoÂmuÂnikasi dengan pasien.
“Untuk diabetes, dokter PusÂkesÂmas bisa sampai memberi obat. Kalau sudah suntik insulin harus dengan resep dokter speÂsiaÂlis,†kata dr Pradana Soewondo.
Sementara peningkatan mutu dokter juga akan dilakukan meÂlaÂlui pendidikan dokter melalui proÂgram magang seusai lulus kuliah.
“Tiap peserta harus melaÂporÂkan sedikitnya satu pasien setiap minggu. Dilaporkan pula kondisi pasien dan terapi yang dilaÂkuÂkan,†katanya.
Direktur Penyakit Tidak MeÂnular Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan, Ekowati Rahajeng mengungkapkan, selain penaÂnganan diabetes di tingkat laÂyanan primer (Puskesmas), paÂsien bisa memeriksakan penyaÂkitnya ke Pusat Pembinaan TerÂpadu (Pusbindu).
“Pusbindu dikelola oleh maÂsyaÂrakat dengan kader yang suÂdah dilatih dokter. Pusbindu mirip Posyandu. Fungsinya lebih kepada kontrol usai pengobatan,†kata Ekowati.
Pelayanan yang bisa didaÂpatkan pasien di Pusbindu, antara lain pengecekan kadar gula dan teÂkanan darah. Saat ini, terdapat sekitar 5.000 Pusbindu di seluruh Indonesia. Keberadaan Pusbindu diklaim mulai menunjukkan hasil. Berdasarkan data KemenÂkes, terjadi penurunan tingkat penÂderita kolesterol tinggi pada 2006 mencapai 2,6 persen dari seÂluruh penduduk Indonesia yang seÂbelumnya 7,6 persen pada 2001.
“Kita menargetkan ada 25 ribu kader yang bisa dilatih tahun ini. Keberadaan Pusbindu penting sebagai upaya mawas diri dari penyakit diabetes,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]