Berita

rommy

Jangan Sampai Izin Pemekaran Diberikan Karena Alasan Anarkisme Warga

KAMIS, 09 MEI 2013 | 09:40 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Saat ini Kementerian Dalam Negeri dinilai merasa terjepit terkait pemekaran wilayah. Karena kebijakan penghentian sementara (moratorium pemekaran wilayah) tidak sejalan dengan banyaknya inisiatif pemekaran wilayah yang muncul dari DPR.

Tidak hanya itu, gelombang permintaan masyarakat untuk mekar juga menjadi persoalan. Amukan warga yang kerap anarkis dalam pengajuan pemekaran kerap mengundang korban.

Pada tahun 2009 misalnya, Ketua DPRD Provinsi Sumut meninggal dunia setelah dikeroyok massa yang pro pemekaran provinsi Tapanuli. Atau yang lebih baru, kurang lebih seminggu yang lalu sejumlah 4 orang warga tewas, 10 polisi luka-luka 4 diantaranya kritis, bahkan wartawan yang meliput kejadian juga menjadi korban kekerasan amukan warga di Musi Rawas, Sumsel.


"Sungguh, kita harus belajar dari semua ini. Jangan sampai izin pemekaran diberikan karena alasan anarkisme warga. Karena tujuan pemekaran itu sendiri adalah untuk membuat warga sejahtera, sehingga persiapan dan penilaian untuk pemberian izin juga harus sangat matang," ujar tokoh muda yang juga bakal calon anggota DPD RI dari DKI Jakarta, Rommy Jumat (9/5).

Secara umum, jelas Rommy, persoalan diterima atau ditolaknya usulan pengembangan wilayah bisa karena soal administrasi persyaratan yang belum memenuhi persyaratan. Tapi bisa jadi juga persoalan pengaruh politik.

Untuk itu bagi provinsi dan kabupaten yang sudah ada saat ini, sangat penting untuk berlomba-lomba menjadi daerah yang memiliki “best practice” agar menjadi champion-champion daerah. Misalnya daerah berpendapatan rendah tetapi melakukan inovasi secara “radikal” terhadap belanja publik untuk membiayai pembangunan kesejahteraan atau penanggulangan kemiskinan seperti yang diterapkan di Jembrana, Solo, Blitar, Belitung Timur, Solok, dan lainnya.

"Apalagi untuk daerah dengan pendapatan luar biasa seperti DKI Jakarta, logikanya akan lebih bisa berkreasi lagi. Inisiatif sangat dimungkinkan karena seiring otonomi daerah, juga sejalan dengan adanya kebijakan desentralisasi fiskal," ungkap bekas aktivis Ikatan Remaja Muhammadiyah jebolan Faculty of Arts University of Western Australia (UWA) ini.

Dengan adanya kemajuan daerah dan masyarakat makin sejahtera, permintaan pemekaran wilayah yang anarkis bisa jadi terminimalisir.

Namun bila suatu daerah membutuhkan pengembangan wilayah, maka ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, pengetatan persyaratan pemekaran dan pengaturan sanksi bila terjadi manipulasi aspirasi dan data. Lalu melakukan uji percobaan bagi daerah yang baru dikembangkan yang akan dievaluasi kinerjanya. Kedua, melibatkan Gubernur dalam pembahasan pengembangan wilayah (penghapusan, pemekaran atau penggabungan).

"Ketiga, revitalisasi DPOD (Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah) dengan lebih banyak diisi oleh pakar yang kredibel agar bisa melakukan evaluasi pengembangan wilayah secara baik. Keempat, DPD dan DPR dalam hal ini juga harus berkedudukan setara dalam pembahasan isu pengembangan wilayah," tandasnya. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya