Berita

PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia

Bisnis

GMF Aeroasia Malah Incar Perawatan Airbus Di Myanmar

Pendapatannya Anjlok 10 Persen
KAMIS, 09 MEI 2013 | 09:20 WIB

Kinerja anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk, PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aeroasia, di kuartal I tahun ini merosot. Pendapatan GMF sepanjang Januari-Maret 2013 hanya 53,11 juta dolar AS, sementara di periode yang sama tahun lalu pendapatannya 59 juta dolar AS atau turun 10 persen.

Direktur Utama GMF Aeroasia Richard Budihadianto mengatakan, penyebab penurunan itu lantaran susutnya jumlah penumpang. “Dibandingkan kuartal I tahun lalu, jumlah klien yang menggunakan jasa kami turun sekitar 15 persen,” ujarnya.

Kendati demikian, itu tidak membuat manajemen GMF mengubah target tahun ini. Richard optimistis bisa mengantongi pendapatan 260 juta dolar AS di akhir tahun ini. Angka itu naik 30 persen dari pencapaian tahun lalu yang sebesar 200 juta dolar AS. Demi mengejar target itu, GMF telah menyiapkan strategi bisnis, yakni perseroan akan membangun hanggar baru. Ini hanggar keempat yang dimiliki GMF.


Richard memperkirakan, hanggar baru yang rencananya dibangun di Bandara Soekarno Hatta (Soeta) ini menelan dana sekitar Rp 500 miliar. Total luas hanggar baru ini sektiar 64.000 meter persegi (m2). Di saat yang sama, perusahaan juga akan mengoptimalkan operasi tiga hanggar lainnya.

Selain itu, GMF akan bekerja sama dengan perusahaan lain. Anak usaha BUMN penerbangan ini sedang menyusun perjanjian kerja sama berupa joint venture dengan 10 perusahaan penerbangan lain.

Setelah menggandeng Aerospace, GMF berencana merangkul produsen burung besi asal Prancis, Airbus. Namun, Richard tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai rencana korporasi tersebut.

Ia hanya mengatakan, saat ini pasar maintenance, repair dan overhaul (MRO) dalam negeri nilainya mencapai 850 juta dolar AS. Sementara yang ditangani di dalam negeri hanya 30 persen, sisanya diurus di luar negeri. “Ini peluang yang ingin kami manfaatkan,” tuturnya.

GMF mengincar proyek perawatan dan perbaikan pesawat Airbus A320 di Myanmar dan Thailand. Jika tidak ada aral melintang, GMF sudah mendapat izin dari Pemerintah Myanmar mengembangkan bisnis di sana. Di Thailand, diperkirakan baru terealisasi akhir 2013 atau awal 2014. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya