Berita

ilustrasi/ist

Politik

Diungkap, Operasi Bumi Hangus PKS Lewat Ahmad Fathanah

KAMIS, 09 MEI 2013 | 05:20 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Publik kembali dibuat penasaran siapa sebenarnya Ahmad Fathanah (AF)? Belakangan diberitakan, tersangka korupsi sapi impor itu melimpahkan uang dan aset yang diduga hasil korupsi kepada tiga perempuan cantik; Ayu Azhari, Vitalita Sesha dan Tri Kurnia Puspita.

Kepada artis papan atas Ayu Azhari, AF memberikan 1.800 juta dolar AS dan Rp 20 juta. Sementara kepada Vitalia yang dikenal sebagai model majalah dewasa dan penyanyi dangdut Tri Kurnia, dia memberikan ratusan juta rupiah.

Lewat kicauan berjudul "Jejak Ahmad Fathanah, Siapa Sih Dia (Bag. I)", kemarin, akun Twitter @TrioMacan2000 membeberkan misteri AF. Dalam kicauannya, @TrioMacan 2000 menyebut AF adalah agen yang disusupkan ke PKS dengan target partai dakwah itu hancur. Kecurigaan bahwa AF adalah agen yang ditanam di lingkungan PKS nampak dari kebiasaannya hadir dalam setiap pusaran korupsi PKS yang terungkap. Dia berperan sebagai pengumpan agar elit PKS terjerat.

Modus yang menguatkan AF sebagai agen yang ditanam untuk menyeret elit PKS ke penjara, tulis @TrioMacan2000, di setiap kasus terkait AF selalu "dibumbui" dengan cerita-cerita atau kisah keterlibatan wanita yang dikesankan sebagai PSK, piaraan dan sejenisnya. Dengan modus ini AF atau mastermind yang menjadi "majikan" AF berharap kehancuran atau daya rusak yang ditimbulkan terhadap PKS menjadi maksimal.

Sebelum ditangkap oleh KPK di Hotel Le Meredian Jakarta pada 29 Januari lalu, AF pernah mencoba menyeret Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dan Hidayat Nur Wahid (HNW) ke penjara menggunakan kasus proyek kerjasama mereka dengan Telkomsel. Untungnya, kasus tersebut berhasil dipetieskan di Polda Metro sehingga LHI dan HNW yang saat itu menjabat ketua MPR selamat.

AF pernah ditangkap karena tuduhan menyelundupkan 353 WNA yang mayoritasnya dari Irak ke Australia. AF ditangkap di Thailand kemudian diekstradisi ke Australia dan menghadapi ancaman hukuman 20 tahun atau seumur hidup. AF yang harusnya menjalani hidup 20 tahun di penjara Australia, tiba-tiba muncul di Indonesia seolah-olah tanpa ada masalah apapun. @TrioMacan2000 menulis pembebasan AF dilakukan tanpa mekanisme grasi, amnesti atau abolisi. Hampir dapat dipastikan dia keluar dari penjara Australia karena adanya deal-deal khusus.

Dari modus dan track record AF, lalu dikaitkan dengan konstelasi politik nasional saat ini, ada tiga pihak yang mendulang untung dari misi hancurnya PKS melalui isu korupsi, amoral dan pembentukan persepsi publik yang disebabkan AF. Ketiga pihak itu menurut @TrioMacan2000, Istana dan Partai Demokrat, pihak-pihak yang terlibat korupsi Century dan partai-partai lain.

"SBY & RING 1nya sdh lama sangat kesal dgn PKS. Meski PKS adalah mitra koalisi, tapi PKS tetap kritis thdp SBY & kasus2 korupsi istana," kicau @TrioMacan2000.

"PKS tercatat sbg inisiator pembongkaran korupsi century & rencana pansus Mafia Pajak yg nyaris menjatuhkan kekuasaan SBY & Budiono. Kemarahan SBY and his gank thdp PKS sebenarnya sdh diubun2. Tdk tertahankan. PKS selalu jadi ancaman bagi SBY-Budiono -PD - sekutu2nya," lanjut kicauan @TrioMacan2000.

Dikicaukan lagi, bukan SBY namanya jika dia tidak tahu cara menjatuhkan atau menghancurkan PKS secara elegan. SBY ahli strategi dan jenius dalam siasat. Meski PKS sudah menjelma jadi anak nakal di mata SBY, "hukuman" terhadap PKS kelihatan di mata publik selalu terarah dan terukur. Meski nyaris kalah dalam voting usulan Pansus Mafia Pajak, SBY hanya menghukum ringan PKS dengan mencopot satu menteri PKS.

Tapi, AF sebagai "NOC" alias "agen tidur" dibangunkan untuk misi khusus. Rangkaian skenario untuk menyeret LHI pun dijalankan. LHI dijemput paksa oleh KPK saat SBY "kebetulan" berada di pesawat menuju Timur Tengah. Sangat kentara, upaya penjemputan paksa dan penahanan LHI harus dilakukan sesegera mungkin sekalipun dia tidak kena operasi tangkap tangan.

Perlakuan KPK terhadap LHI jelas berbeda dengan tersangka korupsi lain yang tidak terkena operasi tangkap tangan? Intinya agar PKS tidak bisa tekan atau lobi SBY untuk selamatkan LHI. Sementara SBY punya alibi, sedang di pesawat sehingga tak bisa terima telpon dari orang PKS yang selama ini hotline dengannya. Ketika LHI sudah tersangka dan sudah meringkuk di tahanan, meski ditekan habis oleh Ketua Majelis Syuro PKS Ustad Hilmi Aminuddin, SBY bisa mengelak dengan jawaban tidak bisa lagi.

Untuk memastikan operasi penghancuran PKS, dan tentu saja partai-partai lain via tangan KPK sukses, Abraham Samad harus dilumpuhkan secara total karena dia penghalang. Samad dikenal dekat dengan PKS via senior dan mentornya yang tokoh PKS, Tamsil Linrung. Sebelumnya, dia juga dikenal pro PKS. Operasi tangkap tangan KPK pada AF tidak diketahui Samad selaku ketua KPK. Operasi tersebut merupakan operasi Bambang Widjojato (BW). SBY dan BW punya kepentingan atau benang merah yang sama jika dihadapkan dengan isu korupsi Century. Keduanya tidak mau kasusnya tuntas. Di sisi lain, pimpinan KPK yang paling ngotot mau tuntaskan kasus korupsi Century melalui jalur hukum adalah Samad.

Bagi SBY dan Partai Demokrat, tidak ada jalan lain untuk selamatkan Partai Demokrat dan masa depannya kecuali dengan menghancurkan partai-partai lain sehancur-hancurnya melalui KPK. Pertanyaannya, darimana atau siapa yang mengoper AF yang merupakan aset Australia agar bisa dimanfaatkan Istana?

"Kisah AF msh panjang. Targetnya hancurkan PKS jg blm maksimal. Nanti kita buka, sejelas2nya. Skrg sdh mau magrib, sekian. MERDEKA !" tulis @TrioMacan2000 mengakhiri kicauannya. [dem]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

BRI Catat 6.022 Debitur KUR di Pangkalpinang, Didominasi Petani Sawit

Senin, 29 Juni 2026 | 22:23

Mengenal Emission Trade System

Senin, 29 Juni 2026 | 22:06

KPK Perpanjang Penahanan ASN BPK Sumsel Titin Rita Lestari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:52

DPR Minta Polisi Segera Penjarakan Penganiaya Caddy di Tangerang

Senin, 29 Juni 2026 | 21:36

Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Perkuat Resiliensi Media demi Pembangunan Papua

Senin, 29 Juni 2026 | 21:34

Ahmad Muzani Bicara Potensi Wisata Religi Saat Temui Ketua MPR Uzbekistan

Senin, 29 Juni 2026 | 21:32

Bupati Muara Enim Edison Masih Nginep di Rutan KPK dalam 40 Hari

Senin, 29 Juni 2026 | 21:14

DMO dan RKAB Harus jadi Prioritas Amankan Pasokan Batu Bara

Senin, 29 Juni 2026 | 20:44

Hampir Rampung, Sekolah Rakyat Kementerian PU di Bekasi Usung Gentengisasi

Senin, 29 Juni 2026 | 20:36

Brasil vs Jepang: Duel Raksasa di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Senin, 29 Juni 2026 | 20:28

Selengkapnya