Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I tahun ini berada di kisaran 6,02 persen. Angka ini jauh lebih rendah dari ekspektasi, lantaran pada target APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) pertumbuhan ekonomi dipatok 6,6-6,8 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengungkapkan, jika dibanding pada triwulan IV-2012, Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) Indonesia naik 1,41 persen. “PDB kuartal I-2013 sebesar Rp 6,03 triliun,†katanya di kantor pusat BPS, kemarin.
Dia menjelaskan, PDB tertinggi dicatatkan sektor pertanian, perikanan dan peternakan yang tumbuh 23,6 persen secara kuartal to kuartal (QoQ). Sementara sektor keuangan tumbuh
2,96 persen dan secara
year on year (YoY) tumbuh 8,35 persen. Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 1,57 persen atau 9,98 persen dan mencatatkan pertumbuhan tahunan terbesar serta sektor konstruksi 7,19 persen.
Pada PDB triwulan l tahun ini dibanding triwulan lV-2012, hanya komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang secara riil meningkat 0,30 persen, sedangkan komponen lainnya mengalami penurunan.
Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah turun 42,63 persen, komponen pembentukan modal tetap bruto turun 5,99 persen, komponen ekspor barang dan jasa turun 4,33 persen dan komponen impor barang dan jasa juga turun 13,20 persen.
Suryamin juga menyebutkan, struktur perekonomian Indonesia triwulan l tahun ini masih didominasi kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB, yakni 57,79 persen.
Suryamin menilai, jumlah tenaga kerja di sektor pertanian yang menurun sebagai sinyal kemajuan pembangunan. Hal itu mengingat jumlah tenaga kerja di sektor industri dan jasa meningkat. Pada sektor industri, penyerapan tenaga kerja naik dari 22,2 juta orang atau 1,9,71 persen pada Februari 2012 menjadi 23,5 juta atau 20,15 persen pada Februari 2013.
“Penurunan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dan meningkatnya sektor industri dan jasa menjadi sinyal kemajuan pembangunan perekonomian,†klaim Suryamin.
Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai, turunnya perekonomian Indonesia dipicu melorotnya investasi yang masuk sepanjang kuartal I tahun ini.
Menurutnya, perekonomian menurun karena investasi yang melorot sampai 5,9 persen. Akibatnya beberapa industri sebagai penggerak ekonomi menurun. “Investasi menurun, kualitas melorot dari industri manufaktur,†ungkapnya, kemarin.
Faisal menilai industri manufaktur punya peranan penting karena bisa menyerap banyak tenaga kerja. Dengan demikian, meskipun ekonomi turun tapi masih bisa menyerap tenaga kerja. [Harian Rakyat Merdeka]