Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Alex W Retraubun mengaku frustrasi masih mandeknya realiasi investasi pabrik garam di Indonesia Timur. Alhasil, impor tetap dilakukan.
Alex mengaku, rencana pembangunan pabrik garam di Nagakeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh perusahaan asal Australia, Cheetam Salt, hingga kini masih terkendala lahan. Padahal, dirinya telah mengupayakan proyek ini sejak pertama menjabat sebagai Wamenperin awal 2010.
“Sejak saya jadi Wamen di sini, yang saya kejar pertama barang ini. Sampai saya mau turun, belum jadi ini barang. Anda tahu, Saya juga frustrasi karena masalah ini terus berputar-putar seperti lingkaran setan. Tapi saya yakin ini akan jalan,†keluh Alex di kantornya usai menerima rombongan Presiden Tatarstan Rustam Minnikhanov di kantornya, kemarin.
Menurutnya, dari 1.000 hektar lahan di Nagakeo, sebanyak 700 hektar lahan merupakan lahan milik pemerintah yang harus dibebaskan. Padahal jika itu tanah negara, seharusnya Badan Pertanahan Nasional (BPN) bisa segera membebaskannya.
“Saya kira sekarang dalam proses, tapi saya berharap jangan terlalu lama. Karena kalau terlalu lama ini kan semakin berputar-putar. Masak tugas (jabatan) kita mau selesai, tapi barang ini belum juga jadi,†katanya geram.
Selain itu, dia juga meminta pemerintah daerah setempat berkontribusi untuk menyiapkan segala regulasi bagi investor. Jika pembebasan lahan itu tuntas, investor bisa melakukan
groundbreaking pembangunan pabrik garam tersebut.
Dia juga menargetkan, tahun depan proyek investasi ini akan selesai, mengingat Indonesia masih banyak mengimpor garam, khususnya dari Australia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kuartal I Januari- Maret 2013 pemerintah masih mengimpor garam 465 ribu ton atau senilai 21,5 juta dolar AS. Pada Januari 2013, impor garam terjadi 156 ribu ton atau 7,7 juta dolar AS.
Kemudian pada Februari impor meningkat menjadi 192 ribu ton atau 7,9 juta dolar AS dan Maret sebesar 116 ribu ton atau 5,9 juta dolar AS. Impor terbesar dilakukan dari Australia 370 ribu ton atau 17,3 juta dolar AS. Selandia Baru mencatatkan impor 120 ton atau 41 ribu dolar AS. India dengan volume 94.500 ton atau 3,9 juta dolar AS. Jerman sebesar 76 ton atau 147 ribu juta ton.
Untuk diketahui, Cheetam Salt Ltd, perusahaan garam asal Australia berkomitmen menggandeng Pemda NTT menggarap lahan garam di Kabupaten Nagekeo, NTT, seluas 2.100 hektar. Jika kerja sama ini sudah direalisasikan, akan ada tambahan produksi garam nasional 250.000 ton per tahun.
Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan Sudirman Saad mengklaim telah terjadi surplus garam nasional 1,6 juta ton.
“Tahun 2012 target kami 1,3 juta ton, sementara produksi garam nasional tembus 2 juta ton. Setelah dikurangi konsumsi, diketahui kita masih surplus 1,6 juta ton,†kata Sudirman.
Karena itu, pihaknya optimis Indonesia bisa swasembada bahkan ekspor garam. Namun, untuk swasembada diprediksi baru bisa dilaksanakan pada 2014.
Tahun ini, Sudirman hanya menargetkan memenuhi kebutuhan garam industri sebanyak 1,8 juta ton. Kendati begitu, Indonesia saat ini masih mengimpor 500 ribu ton garam dan dari angka ini 150 ribu ton masuk ke area Jawa Timur.
Sekretaris Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat Kementerian Kelautan dan Perikanan Heri Gunawan Dauli mengatakan, dengan adanya program pemberdayaan usaha garam rakyat sejak 2011, pemerintah tidak seharusnya mengimpor garam karena akan mengancam kesejahteraan petani.
“Kami sudah melayangkan surat ke kementerian terkait agar bisa menganalisa kembali impor itu tidak seharusnya kita butuhkan, sehingga harga jual ataupun produksi dari petambak garam lebih meningkat,†cetusnya. [Harian Rakyat Merdeka]