Berita

Tiga Alasan Bernas PKS Tolak Bapak-Anak dan Suami-Istri Nyaleg

KAMIS, 02 MEI 2013 | 09:37 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Partai Keadilan Sejahtera sejak awal menolak praktik politik dinasti. Karena itu, PKS tidak mengusung sebagai calon anggota legislatif suami-istri dan  bapak-anak secara bersamaan.

Tak hanya itu, suami atau istri yang sedang menduduki jabatan publik, seperti gubernur dan menteri juga tidak bisa nyaleg.

"Jadi kalau suaminya bupati, walikota, gubernur atau menteri, istrinya tidak jadi caleg. Begitu sebaliknya. Kami menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada UU yang melarang keluarga untuk jadi caleg," jelas Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Kamis, 2/5).


PKS menolak politik dinasti karena tiga alasan. Pertama, berangkat dari semangat reformasi yang menolak praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mengusung keluarga sendiri sebagai caleg sama saja dengan melakukan praktik nepotisme.

Kedua, PKS tidak ingin politik dinasti menutup ruang orang berkualitas lainnya untuk mendapatkan kecepercayaan menjadi wakil rakyat.

"Dalam konteks perpolitikan di Indonesia, hampir sulit dilepaskan keterkaitan satu keluarga dengan keluarga lainnya. Apabila keluarga lainnya itu sudah punya jabatan publik, apakah itu menteri, gubernur, itu pasti akan punya pengaruh positif kepada keluarga yang jadi caleg. Dan itu menurup ruang bagi yang lainnya untuk berkompetisi secara fair," jelasnya.

"Meski, kita juga menyadari dari keluarga itu ada yang berkualitas," sambungnya.

Alasan ketiga, PKS tidak ingin berpolitik itu malah membuat hubungan dalam keluarga menjadi tidak terurus dan berantakan karena suami-istri sibuk berpolitik. "Kita ingin ada yang mengurus negara, tapi ada juga yang mengurus keluarga," tandasnya. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya