.Iklim investasi di tanah air sedang bagus-bagusnya. Pengusaha berharap agar peringatan Hari Buruh (May Day) 1 Mei depan, berjalan tertib. Buruh diimbau agar turun ke jalan dengan tertib. Tidak anarkis. Sebab kalau demonya rusuh, investor asing bakal hengkang dari Indonesia.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo BamÂbang Sulisto menegaskan, pihakÂnya tidak keberatan dengan renÂcana buruh memperingati May Day dengan demonstrasi besar-besaran. Asalkan, kegiatan terseÂbut dilakukan deÂngan tertib.
“Silakan demo, itu hak buruh. Hal itu biasa dalam demokrasi, asalkan tidak anarÂkis dan rusuh,†kata SurÂyo kepada Rakyat MerÂdeka, akhir pekan lalu.
Dia mengingatkan, perekonoÂmian Indonesia saat ini sedang dalam kondisi baik. Iklim invesÂtasi bagus, banyak investor yang ingin menanamkan modalÂnya di Indonesia.
“Jangan samÂpai gara-gara peÂringatan May Day rusuh, iklim invesÂtasi terganggu. Kalau inÂvestasi bagus yang untung kita semua, bukan hanya pengusaÂha,†imbuh Suryo.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) belum lama ini merilis realisasi investasi triwuÂlan I (Januari-Maret) sebesar Rp 93 triliun. Jumlah itu naik 30 perÂsen jika dibandingÂkan dengan reaÂlisasi triwulan I-2012, yakni sebesar Rp 71 triliun.
Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan MinuÂman Seluruh Indonesia (GapÂmmi) Franky Sibarani juga tidak keÂberatan buruh menggelar peÂringaÂtan May Day. Namun, dia meÂminta, buruh yang ikut aksi tak melakukan tindakan provokatif.
“Silakan demo tetapi jangan memaksa buruh lain yang sedang kerja. Tidak mau ikut peringatan dipaksa untuk ikut,†pintanya.
Ditanya mengenai tuntutan buruh agar Upah MiniÂmum ProÂvinsi (UMP) naik setiap tahun, Franky balik bertanya, apakah buÂruh mampu meningkatÂkan produksi? Karena tidak bisa upah naik bila tidak dikuti peÂningkatan kinerja dan produksi.
“Kalau buruh bisa tingkatkan produksi tidak masalah. Tapi KaÂlau produksi tidak naik semenÂtara upah terus minta naik, ya peruÂsaÂhaan bangÂkrut,†kata Franky.
Ketua Umum Himpunan PengÂuÂsaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Suryani Motik menilai, ada yang janggal di balik maraknya aksi unjuk rasa buruh dalam skala beÂsar. Dia curiga, ada kekuatan terÂtentu yang ingin melumpuhkan perekonomian Indonesia.
“KaÂrena kalau buruh demo teÂrus-terusan tentu akan mengÂgangu iklim inÂvestasi. Situasi ini perlu diÂwaspaÂdai,†katanya.
Suryani menceritakan pengalaÂmannya ditolak investor dikareÂnakan iklim ketenagakerÂjaan di Indonesia dinilai tidak kondusif.
Dia bercerita, pihaknya pernah mengundang inÂvesÂtor Jepang unÂtuk membaÂngun pabrik kanÂtong darah di IndoÂnesia. Sebab, selama ini Indonesia memakai kantong buatan Negeri Sakura. Namun, mereka menolaknya dengan alasÂan iklim investasi di Indonesia tidak kondusif.
“Mereka akhirnya memiÂlih membuat pabrik di Vietnam. SeÂharusnya kita lebih menarik kaÂrena pangsa pasar mereka lebih besar di sin. Kita akhirnya hanya menjadi paÂsar mereka,†keluh bendahara PaÂlang Merah IndoÂnesia (PMI) ini. [Harian Rakyat Merdeka]