Rencana pemerintah mengimpor beras dari Myanmar yang dibarter alias ditukar dengan pupuk, hanya menambah rugi petani di dalam negeri.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo mengatakan, kerja sama pemerintah dengan MyanÂmar jangan sampai meruÂgikan petani lokal.
“Kerja sama barter pupuk deÂngan beras akan meÂngancam peÂtani,†katanya keÂpada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.
Politisi Golkar ini menilai, deÂngan masuknya beras impor lagi akan membuat beras dalam neÂgeri lebih. Alhasil, harga dalam negeri akan turun. Kondisi itu juga berdampak pada turunnya harga gabah petani.
Menurut dia, kerja sama ini hanya menguntungkan perusaÂhaan pupuk, sedangkan peÂtani dirugikan. Padahal peruÂsahaan pupuk sudah mendapatkan subÂsidi besar.
Sayangnya, penyalurÂan di dalam negeri tidak terkonÂtrol dan tidak tepat sasaran.
“Jangan sampai petani yang dikorÂbankan. Masak kita mau Myanmar beli pupuk tapi kita diÂpakÂÂsa beli berasnya,†ucap Firman.
Karena itu, dia meminta pemeÂrintah tidak perlu mengimpor beÂras tahun ini karena stok di guÂdang Perum Bulog akan surplus.
“Berdasarkan data yang dikeÂluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) akan terjadi surplus. Kami minta tahun ini tidak ada impor beras sama sekali,†tekannya.
Firman juga berharap, pemeÂrintah lebih memprioritaskan peÂngadaan beras dalam negeri unÂtuk mengisi stok Bulog.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani YusÂtika mengatakan, impor beras menjadi dilema bagi peÂmeÂrintah.
Meski produksi dalam negeri susah terpenuhi, tapi haÂrus tetap menyediakan cadangan beÂras untuk antisipasi bencana.
Menurut Erani, saat ini cadaÂngan beras Bulog hanya 4-5 perÂsen. Padahal, cadangan beras ideal adalah 15 persen dari kebuÂtuhan dalam negeri.
“Sekarang cadaÂngan beras BuÂlog cuma 2 juta ton,†jelasnya.
Ia mengatakan, seharusnya peÂmerintah memenuhi cadangan beÂras dari peningkatan produksi dalam negeri. Namun, KemenÂterian Pertanian (KemenÂtan) beÂlum mampu melakukanÂnya dan selalu gagal padahal anggarannya besar.
“Alasannya maÂsih klise dan sama yaitu produksi. Padahal, kegiatan impor beras sangat memÂbebani Anggaran PenÂdapatan dan Belanja Negara (APBN),†cetus Erani.
Pengamat pertanian Khudori menyatakan, produksi beras naÂsional sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Bahkan, surplus berdaÂsarkan data BPS.
Berdasarkan data BPS, awal Maret produksi gabah kering giÂling tahun 2012 sebesar 69,05 juta ton atau setara 40,05 juta ton beras. Sementara konsumsi beras masyarakat Indonesia sekitar 139 kilogram per kapita per tahun atau total 34,05 juta ton per tahun. Artinya, terjadi surplus beras tahun lalu sebesar 6 juta ton.
Menteri Perdagangan (MenÂdag) Gita Wirjawan mengaku, peÂmerintah akan melakukan impor beras 500 ribu ton dari Myanmar. Rencana impor tersebut merupaÂkan salah satu butir yang tertuang dalam
Memorandum of UndersÂtanding (MoU) antara Indonesia dan Myanmar.
Gita mejelaskan, rencana impor itu bukan keharusan yang dilakuÂkan setiap tahun, hanya opsi saja. Artinya, jika Myanmar kelebihan beras dan Indonesia sedang keÂkuÂraÂngan, maka kebutuÂhan 500.000 ton diambil dari Myanmar.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan sebelumnya menegaskan, IndoÂneÂsia tidak perlu mengÂimpor beÂras lagi tahun ini karena produksi beras mencukupi.
“Tahun ini Bulog menyerap 3,5 juta ton beras. Saya yakin jika terÂcapai, tidak perlu impor beras,†ujar Dahlan.
Bahkan, sebenarnya tahun lalu pun Indonesia tak perlu mengÂimpor beras. Tapi saat itu Bulog ragu apakah stok yang tersedia dapat mencukupi kebutuhan konÂsumsi dalam negeri. AkhirÂnya, Bulog tetap impor beras dan terÂnyata di akhir tahun masih sisa stok 2 juta ton beras. [Harian Rakyat Merdeka]