Berita

bbm/ist

Politik

Kenaikan Harga BBM , Bagian dari Politik Pemenangan Pemilu 2014

SABTU, 27 APRIL 2013 | 10:52 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Saat rakyat sedang mengalami kelangkaan pasokan solar, nelayan kita kesulitan mendapatkan pasokan solar untuk melaut, petani terkendala dalam melakukan penggilingan padi pascapanen, dan terhambatnya distribusi komoditas pokok yang membuat biaya logistik meningkat, pemerintah justru berencana melakukan pengurangan atau pembatasan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Tak pelak polemik kenaikkan BBM disebut sebagai bagian dari politik menuju pemenangan Pemilu 2014. Pasalnya hal serupa pernah terjadi jelang Pemilu 2009 lalu.

"Masih kuat dalam ingatan kita pada pemilu sebelumnya, dimana kekuatan politik nasional yang merupakan bagian dari kepentingan asing kaum imperialis-neoliberal berupaya menaikkan harga BBM, dan itu sangat jelas kasat mata," ujar Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lamen Hendra Saputra kepada wartawan (Sabtu, 27/4).


Saat itu, lanjutnya, muncul beberapa kompensasi sebagai kebijakan pemerintah, seperti Raskin, PNPM, BLT, Keluarga Harapan, dan sebagainya. Alhasil, suara partai penguasa saat itu meningkat tiga kali lipat dalam satu periode pemilu.  Namun, konsekuensi dari semua itu adalah munculnya keraguan akan adanya suara semu, keterwakilan semu, otoritas dan kebijakan yang semu pula.

"Kenapa? Sebab ada kebohongan dalam membuat kebijakan khususnya untuk kenaikan harga BBM. Dan, itu mengikuti cara berpikir IMF dan World Bank.
Dari kebijakan yang salah itu, pihak yang lebih diuntungkan hanyalah Pemerintah SBY-Boediono," lanjutnya.

Maka, tidak heran kalau kemudian diujung masa Pemerintahan SBY-Boediono, yang muncul adalah keamburadulan kebijakan, mengingat semunya otoritas yang mereka miliki juga.

"Nah, berangkat dari suara yang semu dan keterwakilan yang semu itu menciptakan otoritas yang semu juga. Akibatnya, kita tidak mampu keluar dari cengkraman IMF dan World Bank," lanjutnya lagi.[ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

Kebijakan Energi Harus Seimbang dengan Perlindungan Daya Beli Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 08:05

Lewat Seminar di Wonosobo, Jateng Nyatakan Perang Terhadap Hoaks

Minggu, 26 April 2026 | 07:36

Jemaah Haji Diminta Selalu Bawa Kartu Nusuk dan Dokumen Resmi

Minggu, 26 April 2026 | 07:32

Menkop Optimistis Kopdes Perkuat Ekonomi Masyarakat

Minggu, 26 April 2026 | 07:03

Narkoba Melahirkan Rezim TPPU

Minggu, 26 April 2026 | 06:42

KH Imam Jazuli: Kiai Transformatif Cum Saudagar Gagasan

Minggu, 26 April 2026 | 06:23

Pertemuan Prabowo-Kapolri Mengandung Makna Kebangsaan Mendalam

Minggu, 26 April 2026 | 06:03

Satu Keluarga dengan Lima Nyawa Melayang di Barito Utara

Minggu, 26 April 2026 | 05:48

Tanpa Kubu Tetap

Minggu, 26 April 2026 | 05:13

Pertemuan Menhan dengan Para Jenderal Bukan Sekadar Temu Kangen

Minggu, 26 April 2026 | 05:09

Selengkapnya