Berita

ilustrasi/ist

Kesehatan

Waspadai Sendi Kaku & Gemetar Saat Berjalan

Usia Lanjut Paling Rawan Gangguan Parkinson
JUMAT, 26 APRIL 2013 | 08:09 WIB

. Pola hidup sehat harus dijaga sejak dini karena bertambahnya usia berpotensi terserang penyakit semakin terbuka. Terlebih bagi usia lanjut. Pada usia di atas 50 tahun akan mengalami gangguan gerak motorik pada otak atau biasa disebut parkinson.

Namun, gangguan ini juga bisa menyerang usia muda. Parkinson adalah penyakit degeneratif akibat kekurangan zat dopamin dalam saraf otak, sehingga mempengaruhi gerak motorik seseorang. Gejala dari parkinson, yaitu selalu gemetar saat berjalan, persendian kaku dan gerakan menjadi lambat.

Penyakit ini pun pernah menyerang aktor dunia Michael J Fox, bekas petinju Muhammad Ali dan bintang NBA, Brian Grant. Menurut Spesialis Syaraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Diatri Nari Lastri, gejala parkinson diawali dengan gejala tremor atau gemetar. Gejala itu sering hilang dan timbul kembali.


“Yang paling sering terjadi adalah adanya gemetaran pada satu sisi yang tidak terkontrol. Jadi dimulai pada satu sisi, bukan kedua tangan. Bahkan ketika berjalan, tangan mulai bergerak sendiri. Ini yang mesti diwaspadai,” warning dr Diatri di acara perayaan Hari Parkinson di Jakarta, Kamis (18/4).

Menurutnya, penderita akan mengalami kesulitan dalam menulis. Pada saat menulis, tulisan akan menjadi kecil-kecil hingga tak terbaca. Sedangkan gangguan pada suara, penderita akan mengeluarkan suara menjadi kecil hingga tak terdengar.

Namun sayang, kata dr Diatri, hingga kini faktor pemicu dari penyakit parkinson belum bisa diketahui secara pasti.

“Penyakit parkinson memang belum diketahui secara pasti faktor pemicunya. Namun, genetik dan lingkungan merupakan faktor risiko dari penyakit ini,” ujar dokter yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) ini.

Dr Diatri menjelaskan, ada tiga hal penyebab parkinson. Yakni, faktor lingkungan, genetis, dan degenerasi atau penuaan. Namun penyebab terperinci parkinson, belum bisa diketahui secara pasti.

“Apalagi analisis perkembangan penyakit parkinson tidak bisa dalam hitungan dua atau tiga bulan. Tetapi dalam waktu lama,” jelas dr Diatri.

Dia mengingkatkan untuk mewaspadai gejala penyakit ini. Sebab, pada saat gejala awal muncul, penderita parkinson sudah mengalami kerusakan di otak sebesar 60 persen. Kerusakan ini otomatis akan mengganggu pertumbuhan motoriknya.

Spesialis saraf dari Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Bogor dr Banon Sukoandari menyebutkan, penderita parkinson di Indonesia sangat tinggi. Di RSCM Jakarta saja, tiap bulan ada sekitar 40 hingga 50 kunjungan pasien parkinson. Sedangkan di dunia, angka penyakit ini mencapai 4 juta orang.

“Meski sulit didiagnosis, ada empat gejala utama parkinson.

Selain gementar atau tremor, banyak pasien mengalami rigiditas otot (kekakuan anggota gerak), bradikinesia (gerakan melambat), gangguan berjalan, dan perubahan postur (gangguan keseimbangan),” urai dr Banon.

Penyakit parkinson, kata dr Banon, dapat diatasi jika dilakukan pengobatan dengan baik dan tepat. Gejalanya akan hilang dan memperlambat terjadinya perburukan kondisi penyandang parkinson.

“Sayangnya, pengobatan ini akan berlangsung seumur hidup, dan kebutuhan obat semakin lama semakin banyak dan mahal,” ujarnya.

Direktur The American Parkinson’s Disease Association National Young Onset Center Michael Rezak mengimbau, masyarakat tetap mewaspadai tandatanda awal penyakit ini.

“Sebab, orang kerap tidak menyadari terserang parkinson dan tahu-tahu penyakit itu telah berkembang,” kata Michel.

Melukis Dan Musik Bantu Ringankan Penderita Parkinson

Penanganan penyakit parkinson tidak hanya dengan obatobatan, tetapi bisa melatih motorik penderita dengan melakukan kegiatan seni, seperti melukis, musik, membuat kerajinan tangan, meronce manik-manik, bikin patung dan kegiatan seni lainnya.

Spesialis saraf dari Rumah Sakit PMI Bogor dr Banon Sukoandari menjelaskan, menggambar dan mendengarkan musik diyakini dapat membantu gerakan motorik pasien yang menderita parkinson menjadi lebih baik.

“Seni dapat membuat koordinasi otak dengan otot lebih baik serta secara tidak langsung memberikan perasaan lebih bahagia. Hal ini yang dapat mencegah atau memperbaiki penyakit parkinson,” papar dr Banon di Jakarta, Kamis (18/4).

Selain itu, seni juga dapat membuat orang lebih baik dalam menjalankan complex planning yang sulit dilakukan oleh penyandang parkinson. Complex planning merupakan perencanaan yang dibuat otak sebelum melakukan sesuatu yang berurutan.

“Gejalanya bisa memburuk secara bertahap dari waktu ke waktu kalau tidak segera diobati,” kata Banon.

Karena itu, penderita parkinson tidak hanya membutuhkan obat untuk mengurangi gangguan. Tetapi gerakan motorik tubuhnya dengan terapi seni seperti melukis dan mendengarkan musik bisa mencegah penyakit tersebut.

“Terapi motorik sangat penting bagi penderita parkinson untuk membantu gerakan tubuh dengan mendengarkan musik berirama keras yang memiliki hentakanhentakan,” tuturnya.

Sedangkan dengan melukis,penderita parkinson dibiasakan melukis tanpa alat, langsung menggunakan jari. Jari-jari dicelupkan ke dalam cat, kemudian digunakan untuk melukis di atas kertas. Dari gambar atau coretcoretan tersebut, dokter spesialis saraf dapat menganalisis sejauh mana perkembangan parkinson yang diderita seseorang.

Spesialis Syaraf dari RSCM dr Diatri Nari Lastri menyatakan, dalam memantau perkembangan gejala penderita parkinson, bukan hanya melalui penampilan perilaku atau performance. Tapi ada sejumlah obat yang harus diberikan, lalu dilihat reaksinya dalam beberapa waktu. Salah satunya adalah obat parkinson, levodopa.

“Bila pemberian levodopa tidak ada peningkatan, maka dapat ditarik kesimpulan awal bahwa penyakit yang diidap bukan parkinson. Karena itu, hanya dokter spesialis saraf yang bisa mengindentifikasi apakah sebuah gangguan gerak itu dapat berkembang menjadi parkinson atau penyakit lain,” terangnya.

Menurutnya, obat seperti levodopa mampu memberikan asupan dopamin yang kurang terhadap tubuh.” Pasien parkinson harus mengkonsumsi obatnya secara terus menerus,” kata dr Diatri. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya