. Ketua Umum Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin meminta kejelasan nasib 222 kontainer berisi produk hortikultura yang sudah lebih dari dua bulan tertahan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur.
“Kami minta tindakan tegas pemerintah. Apakah mau dirilis ke pasar, direekspor, atau disita negara? Jangan seperti sekarang tidak jelas. Kami hanya minta kejelasan. Apapun hasilnya, kami terima,†kata Khafid kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/4).
Dia mengungkapkan, ketidakjelasan nasib 222 kontainer menimbulkan kerugian besar. Sebab, importir harus mengeluarkan biaya tambahan menyewa lahan untuk kontainer di pelabuhan. Biaya tambahan sewa lahan, menurutnya, Rp 2 sampai Rp 2,5 juta per unit per bulan.
“Tinggal dikalikan saja 222 kontainer. Biaya yang harus dibayarkan sekitar Rp 393 miliar, itu besar sekali,†keluhnya.
Khafid menuturkan, pihaknya sejauh ini belum mengetahui apa alasan kontainer tersebut tidak diizinkan keluar. Padahal, semua perizinan mengenai importasi sudah dipenuhi seperti Rekomendasi Izin Impor Hortikultura (RIPH), Surat Persetujuan Impor (SPI) dan Importir Terdaftar (IT).
Khafid mempertanyakan pernyataan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi belum lama ini yang bilang akan mereekspor 300 kontainer berisi produk hortikultura.
“Itu kontainer punya siapa yang mau direekpor? Mohon kami diinformasikan,†pintanya.
Kepala Sub Direktorat Humas Bea Cukai Haryo Limanseto mengatakan, pihaknya sudah memproses secara administrasi kontainer yang tertahan di pelabuhan. Namun, pihaknya tidak berani melepasnya sebelum ada kejelasan status dari pihak-pihak berwenang.
“Jika sudah ada tugas, kami siap untuk melakukannya. Kami hanya eksekutor saja di lapangan,†kata Haryo kepada
Rakyat Merdeka, kemarin.
Apakah benar pemerintah maumemusnakan isi kontainer?Haryo menjawab, belum mengetahui informasi apa-apa. Menurutnya, untuk melakukan pemusnahan tidak mudah, karena butuh biaya besar.
Saat ingin dikonfirmasi mengenai masalah tersebut, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi tak menjawab pertanyaan yang dikirimkan
Rakyat Merdeka via SMS.
Langka Di PasaranProduk hortikultura saat ini di pasar sering langka. Wakil Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Satria Hamid menilai, fenomena kelangkaan produk hortikultura disebabkan kebijakan pemerintah yang membatasi impor 13 produk hortikultura.
Menurutnya, pembatasan impor memang bagus. Tapi masalahnya kondisi di dalam negeri belum siap. Tata niaga di dalam negeri sangat kacau. Distribusi sering terhambat karena buruknya infrastruktur dan produksi terganggu cuaca.
“Posisi kami di hilir. Kami berikan keterangan apa-adanya. Kami tidak anti dengan buah lokal. Bahkan kami selalu kampanyekan kepada konsumen untuk mengkonsumsi produk buah dan sayuran lokal. Tetapi saat ini kondisi dalam negeri belum siap,†kata Satria. [Harian Rakyat Merdeka]