Berita

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni)

Bisnis

Pelni Jadikan KM Ciremai Pilot Project Konversi Gas

Hemat Biaya Bahan Bakar
SENIN, 22 APRIL 2013 | 08:24 WIB

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) miris dengan mahalnya biaya bahan bakar untuk pelayaran. Satu pelayaran butuh 70 kiloliter, sehingga dalam sehari BUMN ini menggelontorkan Rp 2 miliar hanya untuk operasional bahan bakar.

Karena itu, Direktur Utama Pelni Jussabella Sahea mengatakan, nahkoda diminta memperlambat jalannya kapal untuk menghemat biaya. “Sekarang kita sudah bisa mengurangi biaya operasional Rp 500 juta per hari, kita kurangi speed, kita pakai RPM ekonomis,” ujarnya.

Jussabella mengatakan, gas akan lebih menghemat pengeluaran karena harganya lebih murah. Pelni yang saat ini mengoperasikan 36 kapal dan asetnya senilai Rp 6 triliun menargetkan peningkatan laba seiring efisiensi dari pos energi.


Tingginya konsumsi BBM selama satu dekade terakhir membuat perseroan akhirnya perlahan-lahan memakai kapal berbahan bakar gas. Pasalnya, keuangan BUMN bidang jasa pelayaran ini terus tergerus dengan tingginya konsumsi BBM.

Menurut Jussabella, KM Ciremai adalah pilot project untuk proyek awal konversi ke gas tahun ini. Kapal ini biasanya melayani angkutan Jakarta-Medan. Dia juga mengungkapkan, biaya memasang converter kit tidak mahal lantaran ditawari kerja sama dengan pemasok gas swasta. Namun, dia enggan menjelaskan skema dan besaran harganya.

“Pilot project konversi gas KM Ciremai kita lakukan tahun ini, diluncurkan Juli. Harapan kita tentunya bisa diikuti kapal-kapal lainnya. Kalau converter kit itu nggak mahal, kita kerja sama dengan penyuplai,” ucapnya.

Dia menjelaskan, converter kit memakai sistem dual fuel, gas dan BBM.

Nantinya porsi gas 70 persen sementara bensol 30 persen. Perusahaan pelat merah yang banyak melayani pelayaran di kawasan Indonesia Timur ini sedianya akan menguji efektivitas penghematan gas di kapal itu.

Jika proyek konversi gas KM Ciremai sukses, Pelni sudah menyiapkan dua kapal lagi yakni KM Sinabung dan KM Rawit untuk menjalankan program konversi.

Selain itu, Jussabella mengaku kerugian yang diderita perusahaan sejak 2001 terjadi seiring maraknya bisnis maskapai murah. Padahal, saat itu perusahaan pelat merah ini membeli 4 kapal baru dengan kapasitas besar yang bisa menampung sekitar 2.000 penumpang. [Harian Rakyat Merdeka]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya