Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, keamanan energi nasional bakal terancam jika pemerintah ngotot membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
“Kalau Indonesia berniat membangun PLTN dampaknya akan banyak sekali. Bahkan kalau terjadi masalah dengan itu keamanan energi terancam,†ujar Fabby.
Menurut dia, hal itu yang terjadi di Jepang saat peristiwa ledakan di Fukushima. Bagusnya, Pemerintah Jepang cepat melakukan tindakan terhadap tragedi tersebut.
Fabby menjelaskan, dalam draf Kebijakan Energi Nasional (KEN), ada opsi untuk memanfaatkan nuklir menjadi energi di kala energi fosil telah habis dan gagal dikembangkan. “Saat ini hanya ada 52 PLTN, namun cuma dua yang aktif. Di Jerman saja yang mempunyai teknologi andal telah menutup PLTN mereka,†katanya.
Pemerintah memang akan membangun PLTN di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Saat ini masih dilakukan studi kelayakan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten).
“Dipilihnya Kalimantan Timur untuk mengembangkan PLTN karena aman. Tidak ada patahan gempa di lokasi tersebut. Bapeten masih melakukan pengawasan, termasuk jika proyek tersebut jalan,†kata Kepala Bapeten Muhammad Dani.
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mendukung dibangunnya PLTN di Indonesia. Menurut dia, PLTN bisa mengurangi efek rumah kaca. “Itu sesuai dengan program pemerintah dan direncanakan pada 2020,†kata Hatta.
Menurut dia, PLTN menjadi solusi ketersediaan energi listrik nasional. Bahwa satu gramnya bisa menghasilkan satu megawatt (listrik) untuk siang dan malam.
Selain itu, pembangunan PLTN juga bisa menekan efek rumah kaca yang selama ini dihasilkan lewat pembangkit listrik yang menggunakan minyak bumi.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnubroto mengakui, banyak wilayah di Indonesia yang kondisinya stabil sehingga cocok untuk pembangunan PLTN.
“Tidak semua wilayah di Indonesia berada di daerah cincin api yang rentan terhadap gempa dan tsunami. Sebaliknya, banyak daerah yang cukup stabil dan cocok untuk berdirinya PLN,†terang Djarot. [Harian Rakyat Merdeka]