Berita

susilo bambang yudhoyono (SBY)

Bisnis

Presiden: Mau Jadi Macan Kandang Atau Macan Asia

Tantang Pengusaha Hadapi Perdagangan Bebas ASEAN
JUMAT, 19 APRIL 2013 | 08:25 WIB

.Presiden SBY menantang para pengusaha untuk mempersiapkan diri menghadapi perdagangan bebas ASEAN. Rupanya presiden sangat berharap agar para pengusaha cuma jadi jago kandang aja.

“Mau jadi macan kandang atau mau jadi macan Asia,” kata SBY dalam pembukaan acara Indonesia Young Leaders Forum 2013 yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Hotel Ritz Carlton Jakarta, kemarin.

Hadir pada kesempatan itu Ketua Umum Hipmi Raja Sapta Okto Hari, pengusaha muda Anindya Bakrie, MEnko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri ESDM Jero Wacik dan lainnya.


Menurut SBY, jika ingin menjadi macan Asia, maka harus ada sinergi yang cukup kuat antara pengusaha dan pemerintah untuk menyelesaikan tantangan-tantangan sebelum 2015.

SBY menyebutkan, lima masalah yang harus segera dibenahi. Pertama, peningkatan kapasitas SDM agar bisa bersaing. Kedua, peningkatan industri sumber daya alam. Yakni membuat bahan mentah menjadi bernilai tambah.

Ketiga, mengatasi persoalan logistik nasional yang selama ini menyebabkan harga-harga barang menjadi mahal. Keempat, mengatasi infrastruktur yang masih minim. Dan Kelima, memperbaiki iklim investasi.

Tingkatkan Daya Saing

Di tempat terpisah, Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan, pelaku industri dan produk tekstil (TPT) diminta meningkatkan daya saing menghadapi perdagangan bebas ASEAN tahun 2015. Pasalnya, hasil produksi Indonesia sampai kini masih tertinggal jauh dari Vietnam.

“Walaupun kita masuk 10 besar negara dengan produksi tekstil terbesar di dunia, tetapi Vietnam nomor satu di ASEAN,” ungkap Hidayat usai membuka Munas ke XIII Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di Gedung JIExpo Kemayoran Jakarta, kemarin.

Hidayat mengatakan, kualitas produk TPT harus diperbaiki. Indonesia nanti harus menjadi basis produksi produk TPT, bukan hanya menjadi pasar untuk negara ASEAN.

Diungkapkannya, total penduduk negara ASEAN hampir 400 juta jiwa. Sebanyak 240 juta di antaranya masyarakat Indonesia. TPT harus berkembang agar bisa menguasai pasar.

Hidayat mengungkapkan, potensi pasar tekstil di Indonesia cukup bagus. Hal itu bisa dilihat dari trend impor produk TPT yang meningkat cukup signifikan beberapa tahun terakhir. Meskipun impor produk TPT tahun 2012 jauh lebih rendah bila dibandingkan tahun 2011.

“Tahun 2012 nilai impor TPT sebesar 8,14 miliar dolar AS. Nilai itu menurun 3 persen bila dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 8,4 miliar dolar AS,” kata politisi Partai Golkar itu.

Persaingan di tingkat dunia, lanjutnya, produk TPT masih dikuasai China. Tapi, saat ini industri TPT di Negeri Tirai Bambu itu sedang bermasalah dengan sektor tenaga kerjanya. Banyak perusahaan TPT China yang berniat merelokasi pabriknya ke negara lain, salah satunya ke Vietnam dan Indonesia. Upah di kedua negara ini dinilai lebih rendah. Kelemahan Indonesia dan Vietnam, menurut mereka masalah skill.

Untuk mendorong agar industri TPT berkembang, Hidayat menuturkan, Kemenperin akan berkerja sama dengan API untuk memperbanyak kegiatan peningkatan keterampilan. Selain itu, kementerian akan memberikan tax holiday bagi perusahaan yang ingin memproduksi dan mengembangkan mesin tekstil.

Kenapa? Karena kelemahan industri di dalam negeri, yakni masalah mesin dan teknologinya. “Mesin tekstil di sini sebagian besar adalah impor sehingga pemerintah akan memberikan tax holiday untuk perusahaan yang ingin investasi mesin di Indonesia.

500 pabrik tekstil butuh peremajaan mesin tekstil. Kalau tergantung impor, daya saing akan ketinggalan,” warning-nya. Ketua Umum API Ade Sudrajat Usman setuju dengan upaya pemerintah tersebut. Menurutnya, penguasaan teknologi dan peningkatan SDM dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing.

“Banyak pesaing baru yang muncul. Industri yang teknologinya tertinggal kini semakin tertekan,” kata Ade. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Antam dan Pegadaian Ikut Uji Keaslian 55 Keping Platinum OTT Bupati Langkat

Minggu, 12 Juli 2026 | 20:16

Proses Hukum Febrie Adriansyah Wujud Ketegasan Pemerintahan Prabowo

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:54

Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Ciptakan Perputaran Uang Rp223 Triliun di Desa

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:43

Belajar dari Yunnan, Tobat Ekologi Ditopang Gerakan Koperasi

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:33

Kopdes Merah Putih Siapkan Kredit Super Mikro, Bunga 8 Persen

Minggu, 12 Juli 2026 | 19:03

Taruna Akmil Pahami Pemikiran Sun Tzu dan Doktrin Pertahanan Negara

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:55

Prabowo Kritik Neoliberalisme, Dorong Kembali Ekonomi Kerakyatan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:51

Kemensos Evakuasi Bocah Sukabumi yang Suka Cium Tangki Motor Warga

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:34

Prabowo Tetapkan Barang Subsidi Wajib Disalurkan Lewat Kopdes Merah Putih

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:17

Karhutla Mengamuk di Jawa dan Kalimantan, 1 Warga Pingsan

Minggu, 12 Juli 2026 | 18:03

Selengkapnya