Berita

Negara Ajaib

SENIN, 15 APRIL 2013 | 14:13 WIB | OLEH: FRITZ E. SIMANDJUNTAK

SEBAGAI sebuah negara, Indonesia termasuk negara yang ajaib.  Terdiri dari beberapa ribu kepulauan, ratusan suku dan berbagai agama, tapi bisa disatukan oleh Pancasila dan UUD’45 dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI).  Meskipun ada kerusuhan di sana sini, tetapi relatif jarang terjadi perang saudara yang membuat NKRI tergoyah.

Di saat belahan dunia lain, Amerika Serikat dan Eropa, mengalami permasalahan akibat dari krisis ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif baik yaitu rata-rata 6 persen. Demikian juga tingkat investasi, menurut Kepala BKPM Chatib Basri, di tahun 2013 bisa berkisar sekitar 13 persen.

APBN tahun 2013 yang disetujui DPR sebesar Rp 1.683 triliun. Di mana pertumbuhan ekonomi disepakati 6,8 persen, laju inflasi 4,9 persen, nilai tukar rupiah Rp 9.300 per dolar AS dan tingkat suku bunga SPN 3 bulan 5 persen. Yang tetap menarik adalah porsi anggaran terbesar masih untuk belanja pegawai dan subsidi, sementara porsi anggaran belanja modal dan bantuan sosial kecil. Dengan perkataan lain belanja pembangunan lebih kecil dari pada belanja untuk kepentingan pegawai negeri.


Walaupun secara statistik dinyatakan bahwa  tahun 2012 terjadi penurunan kemiskinan menjadi 28,59 juta orang atau 11,6 persen, secara kualitas bisa saja kemiskinan justru mengalami involusi dan cenderung semakin kronis. Bahkan ada yang menduga bahwa dari setiap 100 orang penduduk Indonesia sekitar 15 orang masuk kategori miskin. Dengan perkiraan tersebut maka jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 35 juta orang.  

Tentu saja gambaran ini cukup menyedihkan bagi kita. Tidak terbayangkan apabila 38 juta orang miskin tersebut bersatu untuk menolak pemerintahan yang syah sekarang ini. Pasti kerusuhan ada di mana-mana dan NKRI akan tergoyahkan karena setelah hampir 68 tahun merdeka, jumlah orang miskin di Indonesia masih tetap banyak.

Di samping masih tingginya tingkat kemiskinan, ternyata masalah ketimpangan juga dihadapi oleh Indonesia.  Diperkirakan angka Rasio Gini 0,41, bahkan bisa lebih tinggi lagi apabila indikator ketimpangan sensitif terhadap besarnya pengeluaran nyata kelompok masyarakat menengah ke atas.

Dengan demikian dapat diduga bahwa besarnya tingkat kemiskinan maupun ketimpangan, muncul karena kebijakan publik yang telah berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen ternyata tidak berpihak kepada rakyat banyak. Dengan perkataan lain, pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih lebih banyak dinikmati oleh masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas, dan umumnya bekerja di sektor swasta. Hingga tahun 2012 jumlah pekerja formal diperkirakan mencapai 37,2 persen. Padahal di tahun 2009 baru mencapai 30,9 persen saja.

Paradoks dari beberapa hal positif tentang Indonesia di atas, beberapa masalah juga masih selalu muncul bahkan cenderung meningkat. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia di peringkat 118 dari 182 negara yang diukur. Bahkan menurut beberapa survei Indonesia termasuk negara yang paling besar korupsinya.

Korupsi di Indonesia bukan saja pada saat pelaksanaan pembangunan, namun transaksi sudah terjadi saat proses pembahasan anggaran di DPR/DPRD yang melibatkan pihak eksekutif dan kepala daerah. Bahkan pengadaan kitab suci keagaaman juga tidak luput dari korupsi. Tidak heran apabila Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi memperkirakan hampir 200 kepala daerah terlibat kasus korupsi.

Situasi paradoksial tersebut telah menumbuhkan tingkat ketidakpuasan di masyarakat atas rasa keadilan. Padahal tercipatanya keadilan sosial adalah salah satu cita-cita bangsa Indonesia yang harus diwujudkan oleh para pemimpinnya.  Bagaimana mungkin muncul rasa keadilan apabila seorang perwira tinggi kepolisian bisa memiliki kekayaan sampai ratusan miliar rupiah.  Atau mantan bendahara partai yang berkuasa yang bisa mengatur proyek-proyek pembangunan di Indonesia yang nilainya triliunan rupiah.

Itu sebabnya tidaklah mengherankan apabila Departemen Dalam Negeri melaporkan peningkatan jumlah konflik sosial tahun 2012 yaitu  89 kasus. Padahal di tahun sebelumnya hanya 77 kasus. Bentrokan antar warga, antar preman, antar aparat, antar pendukung kandidat kepala daerah, antar kelompok ekonomi semakin sering terliput di media cetak dan elektronik. Bahkan beberapa daerah, seperti Aceh, Papua, Maluku, terus menuntut kemerdekaan karena menganggap hasil pembangunan tidak mampu mengatasi kemiskinan di daerahnya. Ketimpangan dalam pembangunan infrastruktur memang masih sangat terlihat antara Indonesia bagian barat dan timur.  

Meskipun demikian kita patut tetap bersyukur, karena NKRI masih bisa kita pertahankan. Itulah keajaiban dari negara Indonesia. Namun demikian, kita tentu saja tidak boleh selalu mengharapkan dari keajaiban. Langkah nyata untuk mewujudkan keadilan sosial dan penegakkan hukum harus segera terlaksana.

Kiranya hiruk pikuk menuju pemilu dan pilpres 2014 hendaknya memberikan jawaban langkah-langkah nyata dari partai politik dan calon presiden untuk mewujudkan keadilan sosial dan penegakkan hukum. Bukan sekadar mencari kekuasaan saja. [***] 

Penulis adalah seorang sosiolog, tinggal di Jakarta.

Populer

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Cara Daftar Mudik Gratis BUMN 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Kamis, 12 Februari 2026 | 20:04

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

Tips Aman Belanja Online Ramadan 2026 Bebas Penipuan

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:40

Pasukan Elit Kuba Mulai Tinggalkan Venezuela di Tengah Desakan AS

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:29

Safari Ramadan Nasdem Perkuat Silaturahmi dan Bangun Optimisme Bangsa

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:23

Tips Mudik Mobil Jarak Jauh: Strategi Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 22 Februari 2026 | 09:16

Legislator Dorong Pembatasan Mudik Pakai Motor demi Tekan Kecelakaan

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:33

Pernyataan Jokowi soal Revisi UU KPK Dinilai Problematis

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:26

Tata Kelola Konpres Harus Profesional agar Tak Timbulkan Tafsir Liar

Minggu, 22 Februari 2026 | 08:11

Bukan Gibran, Parpol Berlomba Bidik Kursi Cawapres Prabowo di 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:32

Koperasi Induk Tembakau Madura Didorong Perkuat Posisi Tawar Petani

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:21

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kesepakatan RI-AS soal Pelonggaran Sertifikasi Halal

Minggu, 22 Februari 2026 | 07:04

Selengkapnya