.Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo meminta kalangan pengusaha waspada. Saat ini, ekonomi nasional masih dibayangi krisis keuangan dunia yang belum tuntas. Tekanan ke rupiah masih tinggi.
Agus mengungkapkan, berdaÂsarÂkan catatan World Bank (Bank Dunia), proÂyeksi perÂtumÂÂbuhan ekonomi duÂnia saat ini masih kurang dari 4 persen. ArÂtinya, kondisi terseÂbut masih krisis.
“Kalau sekarang masih di baÂwah 4 persen itu artinya masih di bawah krisis. Jadi bapak ibu haÂrus ingat dunia dalam krisis,†warning Agus dalam acara MuÂnas AsoÂsiasi Pengusaha IndoÂneÂsia (ApinÂdo) di Jakarta, kemarin.
Dia melihat, dampak krisis seÂcara perlahan terus mendekat ke Indonesia. Indikasi ersebut bisa dilihat dari pergeseran asumÂsi makÂro yang ditetapkan pemerinÂtah.
Karena itu, dia meÂminta keÂbijakan fiskal (angÂgaran) harus dijaga agar tidak sampai defisit.
Calon Gubernur Bank IndoneÂsia (BI) ini menjelaskan, peÂmeÂrintah sudah mengÂambil langÂkah-langkah agar ekoÂnomi tetap kuat. Seperti pengÂetatan pengeÂluaran anggaran pemerintah.
“Selama ini fiskal kita kuat meski target pertumbuhan ekoÂnomi tidak tercapai. Namun nilai tukar rupiah Rp 9.700 per dolar AS dan
lifting minyak 840 ribu barel per hari (bph),†jelasnya.
Diakui Menkeu, neraca perdaÂgangan saat ini masih defisit alias minus. Posisi itu terjadi akibat subsidi energi yang terlalu besar. Karena itu, Agus ingin subÂsidi energi seÂgera dibenahi.
Berdasarkan catatan Badan PuÂsat Statistik (BPS), nilai impor FeÂbruari 2013 sebesar 15,32 miÂliar dolar AS dan nilai ekspor FeÂbÂruaÂri 2013 sebesar 14,99 miÂliar doÂlar AS. Secara kumulatif JaÂnuari-FeÂbruari 2013, neraca perÂdagangan defisit 402,1 juta dolar AS. Faktor utama penyebab deÂfisit disebabÂkan tingginya impor migas.
Wakil Ketua Umum Kamar DaÂgang Dan Industri (Kadin) Bidang PemÂberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur meÂngatakan, imbas krisis global suÂdah diraÂsaÂkan pengusaha. Dia memproÂyeksi, ekspor Indonesia akan tuÂrun lebih dari yang suÂdah diproÂyeksi pemerintah.
“PeÂmeÂrintah sebaiknya memÂbatasi produk imÂpor agar indusÂtri lokal bisa mendaÂpatkan pasar lebih luas di negeri sendiri,†pinta Natsir.
Sedangkan Asian DevelopÂment Bank (ADB) memÂproyekÂsi, ekonomi IndoÂnesia akan meÂningÂkat tahun ini. Bahkan pada 2014, ekonomi nasional diÂramal bisa tumbuh lebih baik.
“Pada
Outlook 2013 ADB memÂpÂredikÂsi trend ekonomi di Indonesia bakal tumbuh 6,4 perÂsen pada 2013 dan melaju ke leÂvel 6,6 persen pada 2014,†ujar Deputy Country Director and SeÂÂnior Country Economist EdiÂmon Ginting saat menyampaiÂkan paparannya di Jakarta, keÂmarin.
Proyeksi tersebut, menurut Ginting, karena dukungan invesÂtasi yang bagus. Selain itu, konÂsumsi IndoÂnesia yang cukup menduÂkung. ADB memproyeksi konsumsi swasta akan menguat tahun ini. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya lapangan kerja, upah minimum rata-rata, dan gaji pegawai. Namun demikian, waÂlaupun ekonomi tumbuh inflasi, ADB melihat inflasi akan sedikit mengalami kenaikan dari tahun lalu. Tapi 2014 akan membaik lagi. [Harian Rakyat Merdeka]