.Pemerintah diminta memberikan perhatian serius terhadap alat transportasi massal seperti kereta api untuk menekan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi.
“Pengoptimalan peran alat transÂportasi massal mampu meÂnekan penggunaan BBM berÂsubsidi,†ujar Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut dia, jika pemerintah bisa menekan penggunaan BBM subsidi, maka beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mampu dikurangi. TerÂmasuk jika PT Kereta Api InÂdoÂnesia (Persero) diarahkan peÂmeÂrintah untuk mengangkut lebih banyak penumpang dan barang dari sebelumnya, maka pengguÂnaan alat transportasi seperti kenÂdaraan bermotor milik pribadi, bus-bus antar kota antar provinsi serta truk-truk pengangÂkut baÂrang dapat ditekan.
“Berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi seperti bus-bus penumpang dan truk angkutan barang akan berÂdampak terhadap penurunan pengÂÂgunaan BBM bersubsidi,†ulasnya.
Namun, dia menyayangkan peÂmerintah masih kurang perhatian terhadap keberadaan dan peran kereta api. Sehingga, alat transÂportasi massal tersebut belum mamÂpu menjadi pilihan utama bagi masyarakat. Hal itu bisa terÂlihat dari besaran subsidi yang diberikan pemerintah terhadap KAI yang per tahunnya sekitar Rp 770 miliar.
Selain mengurangi beban subÂsidi, penggunaan kereta api juga akan mampu mengurangi voluÂme kendaraan bermotor di jalan raya. Dengan demikian, akan membuat kondisi jalan raya yang ada lebih panjang usianya kareÂna berkuÂrangnya beban dari truk pengÂangkut barang.
Selain itu, kepadatan lalulintas di jalan raya yang juga menjadi peÂnyebab borosnya bahan bakar bagi kendaraan bermotor akan mampu dikurangi. “Jika dilakuÂkan secara optimal, langkah ini bisa menuÂrunkan penggunaan BBM berÂsubsidi,†ulas Sofyani.
Untuk menimbulkan minat besar bagi masyarakat agar naik kereta api, lanjutnya, pemeÂrintah harus mewajibkan kepada manaÂjemen KAI melengkapi seÂluruh jenis kereta pengangkut orang. KeÂreta itu mesti dilengkapi penÂdingin dan faÂsilitas lainnya yang mampu membuat nyaman peÂnumpang.
“Pemerintah sudah mencabut ketentuan tentang subsidi bagi KAI yang hanya mensubsidi bagi kereta non AC saja. Sudah saatÂnya pula pemerintah memberi pelayanan yang lebih baik keÂpada masyarakat,†katanya.
Sementara itu, Asosiasi LogisÂtik Indonesia (ALI) memperÂtaÂnyakan kebijaÂkan pemerintah meÂlalui KemenÂterian Energi dan Sumber Daya MiÂneral (ESDM) yang telah mengeÂluarkan PerÂaturan Menteri (Permen) Nomor 1 tahun 2013.
Aturan ini berisi soal larangan penggunaan BBM subsidi bagi kenÂdaraan dinas dan mobil baÂrang dengan jumlah roda lebih dari empat yang mengangÂkut hasil perÂkebunan dan tamÂbang. PerÂmen itu tidak mampu berÂbuat banyak mengenÂdalikan pengguÂnaan BBM bersubsidi.
Ketua ALI Zaldi Masita meÂnyatakan, langkah penghematan tersebut justru mendatangkan buntung daripada untung. SoalÂnya, penerapan penghematan BBM tersebut justru menaikkan biaya logistik sekitar 20 persen.
“Dampak naikÂnya biaya logistik akan bermuara pada kenaikan harga komoditas yang tentunya membebani maÂsyarakat,†ujarnya.
Menurut Zaldi, biaya logistik nasional rata-rata berkisar 27 perÂsen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan 14 persen terÂhadap penjualan, jauh lebih tinggi dibanÂdingkan Amerika Serikat (AS), Jepang dan Korea Selatan.
“PaÂdahal pemeÂrintah ingin menurunkan jadi 10 persen seÂbelum implementasi integrasi paÂsar ASEAN 2015,†tuturnya.
Kembangkan GeothermalMenteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mengatakan, pihaknya akan mengembangkan energi panas bumi (geothermal) sebagai pengganti BBM yang kini mulai menipis.
Gusti mengatakan, Indonesia saat ini masih sangat minim meÂmanfaatkan energi panas bumi yakni hanya dua persen. Padahal, Indonesia memiliki 40 persen potensi panas bumi di dunia.
“Panas bumi meÂrupakan enerÂgi yang ramah lingÂkungan daÂripada BBM,†kata Gusti.
Dengan demikian, menurutÂnya, Pemerintah Indonesia akan lebih mengÂoptimalkan potensi panas bumi yang dimilikinya. “Panas bumi di Indonesia yang dikembangkan ada di Sulawesi Utara dan Jawa Barat,†ujarnya.
Saat ditanya kapan panas buÂmi akan dikembangkan, Gusti menjawab,“Harus segara diinÂtensifkan karena bensin 15 taÂhun lagi sudah habisâ€. [Harian Rakyat Merdeka]